MI

MENGENAL  LEBIH  DINI  AUTISME

Siti  Hikmah Anas S.Pd,M.Si

 

 

Pendahuluan

 

Autisme baru disadari  orang tua dan didiagnosa para ahli ketika anak telah berusia 2 tahun keatas.  Pada hal orang tua tidak perlu menunggu selama itu. Jika cukup jeli, orang tua akan bisa melihat kecendrungan perilaku autis[1] sejak dini.

Gejala autisme umumnya sudah dapat dilacak dalam 30 bulan pertama, atau sebelum anak berusia 2,5 tahun. Bahkan dalam kasus-kasus autisme infantile  yaitu gangguan autisme yang terjadi pada anak sejak lahir, pada usia 4 bulan anak autis sudah memperlihatkan gejala atau perilaku yang berbeda dari pada anak umunya.

Yang harus disadari, semakin dini anak memperlihatkan perilaku autistic, semakin besar kemungkinan gangguan tersebut lebih berat daripada anak yang dalam perkembangannya baru memperlihatkan perilaku autistic (autisme regresif). Anak-anak penyandang autisme infantile biasanya memang berada dalam kategori rentang perilaku autisme yang lebih berat ketimbang anak penderita autisme regresif.

Walaupun demikian, tidak berarti perkembangan anak nantinya tidak bisa sebaik penderita autis regresif. Dengan intervensi sedini mungkin, dilakukan secara intensif dan optimal, diharapkan anak-anak ini juga bisa berkembang dengan maksimal.

Menjadi pertanyaan dalam tulisan ini  bagaimana mengenal lebih dini autisme dan bagaimana autisme bisa diderita oleh anak serta bagaimana metode lovaas mampu membantu menangani anak-anak penderita autisme ?

 

 

 

Ciri-ciri Autisme

 

Ada beberapa hal yang menunjukkan ciri-ciri  autisme. Pertama, gangguan autisme ditandai juga dengan keterlambatan perkembangan, baik dalam bidang komunikasi, motorik maupun interaksi social. Namun tidak semua anak yang memperlihatkan keterlambatan perkembangan akan didiagnosis sebagai penyandang autisme. Banyak anak yang pada awalnya memperlihatkan pertumbuhan maupun perkembangan yang lebih lambat daripada  anak-anak dilingkungannya (saudara sekandung misalnya) namun akhirnya dapat mengejar ketertinggalan tersebut dan tumbuh layaknya anak-anak normal lainnya. Jadi, hanya masalah keterlambatan saja.     Terlambat bicara dan bahasanya tidak bisa dimengerti oleh orang lain.

Kita patut curiga bila kemajuan yang mestinya sudah ditunjukkan anak misalnya berlari atau berjalan atau mengucapkan kata  pertama, belum  muncul di usia 3 bulan. Bila hal ini terjadi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan ahli. Tidak   hanya terpaku  pada perkembangan fisik saja (berat dan tinggi badan). Kita juga perlu memperhatikan juga perkembangan motorik,emosional, dan social anak). Itulah pentingnya memiliki catatan perkembangan setiap anak. Disitu bisa ditulis kapan anak  mulai belajar duduk, tersenyum, mengucapkan kata pertama dan sebagainya.

Kedua, Anak lebih senang ditinggal. Salah satu gejalanya adalah kecendrungan anak yang senang ditinggal sendiri. Anak normal biasanya marah dan menangis untuk menarik perhatian agar tidak ditinggal sendirian. Sedangkan anak autis, cenderung tidak rewel kendati  tidak ada orang disekitarnya. Memang tidak semua anak autis tampilannya “manis”, ada juga  yang justru terus-menerus menangis dan berteriak, sampai-sampai ibu atau pengasuhnya hilang akal karena anak tidak mempan dibujuk. Anak-anak demikian bias menangis atau berteriak tanpa sebab-sebab yang “umum” bagi anak normal. Bila anak normal menangis atau berteriak sekedar untuk menarik perhatian atau ingin sesuatu, maka stelah terpenuhi mereka akan berangsur-angsur senang. Tapi pada anak autis, perhatian ataupun usaha untuk membuat anak nyaman seringkali tampak tidak berguna.

Ketiga, tidak mau dipeluk. Gejala lain tampak ketika anak digendong. Anak normal umunya segera mengulurkan tangannya, lalu mendekatkan tubuhnya atau kepalanya agar bisa dipeluk. Reaksi ini merupakan pertanda adanya hubungan keterikatan atau attachment dengan orang dewasa yang mnjadi caretaker-nya.

Pada anak autis, umunya tidak ada reaksi ketika orang tua datang  menggendongnya. Anak tetap diam atau melihat kearah lain dengan pandangan mata yang menyiratkan seolah-olah tidak menyadari kehadiran ibu atau bapaknya. Anak autis juga tidak mampu membalas senyuman ibu atau bapak yang berusaha mengajaknya bercanda. Bahkan terkadang ketika mata anak menatap ibunya, misalnya pandangan matanya terkesan kosong atau melihat menembus (seeing through) ibu.

Keempat, lebih tertarik dengan benda mati dibanding manusia. Bisa berjam-jam ia menghabiskan waktu hanya memandangi mainan yang digantung diatas boksnya sambil tertawa-tawa gembira. Begitu didekati orang tua atau pengasuh, ia justru cuek. Ketika digendong pun, anak autis cendeung menunjukkan posisi tubuh yng kaku. Tidak ha mendekatkan diri agar bias dipeluk. Sikap kaku ini membuat  yang menggendongnya seakan-akan sedang membawa benda mati.

Penyebab anak “protes keras” kala digendong ini tidak lain karena anak autis memiliki tingkat kepekaan sensoris yang jauh lebih tinggi disbanding anak normal. Jadi, ketika anak normal yang menikmati pelukan orang tua dan merasa nyaman dengan kehangatan yang diperolehnya, anak autis  justru merasakan kesakitan karena saraf-saraf sensoris dikulitnya sangat peka.

Penjelasan yang sama mungkin juga berlaku kenapa sebagian anak autis bereaksi negatf, berteriak atau menangis dengan kehadiran banyak orang disekitarnya. Suara-suara dari orang-orang tersebut mungkin menjimbulkan efek yang jauh lebih hebat dibanding pada orang non autistik. Suara yang bagi kita bisa ditolerir, bagi mereka mungkin terdengar terlalu keras atau terlalu tinggi.

 

 

 

Jenis autisme

Berdasrakan waktu munculnya gangguan, autisme dapat dibedakan menjadi autisme sejak bayi dan autisme regresif. Pada autisme yang terjadi sejak bayi, anak sudah menunjukkan perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan anak nonautistik sejak ia bayi. Sedangkan autisme regresif ditandai dengan regresi (kemunduran kembali) perkembangan. Kemampuan yang sudah diperoleh jadi hilang. Yang awalnya sudah sempat menujukkan perkebangan normal sekitar usia 1,5-2 tahun, tiba-tiba perkembangan ini berhenti. Kontak mata yang tadinya sudah bagus, lenyap. Dan jika awalnya sudah mulai bias mengucapkan beberapa patah kata, hilang kemampuan bicaranya. Kasus gangguan autisme yang terjadi sejak bayi bias dideteksi sekitar usia 6 bulan. Sedangkan untuk kasus autisme regresif, orang tua biasanya mulai menyadari ketika anak berusia 1,5-2 tahun.

Sayangnya , ornag tua umumnya baru emmbawa anak ke ahli sat usia anak diatas 2 tahun. Umumnya saat anak dicurigai mengalami keterlambatan berbicara. Padahal, kemampuan komunikasi ini bukan satu-satunya gejala pada gangguan autisme.pada banyak kasus, anak ba ketahuan mengalami autisme  ketika sudah berumur 3-5 tahun. Padahal, keterlambatan ini berarti penundaan intervensi bagi anak yang berisikopada ketertinggaln perkembangan anak itu sendiri. Bagi anak anak autis, makin dini intervensi diberikan, semakin besar peluang anak untuk bias berkembang secara maksimal.ru

 

Mengenal ragam factor penyebab

 

Dalam catatan pakar autis, jumlah penyandang  autisme  dibandingkan dengan jumlah kelahirna normal, dari tahun ke tahun meningkat tajam. Kalau ditahun 1987 disebu 1 diantara 5.000 anak yang menunjukkan gejala autisme. Maka 10 tahun kemudian tercatat 1 diantara 5000 kelahiran. Bahkan 3 tahun kemudian angka ini meningkat menjadi 1 dalam 150 kelahiran, dan di tahun 2001 lalu sudah mencapai 1 dari 100 kelahiran.

Peningkatan yang cukup fantastis ini pasti membuat kita jadi bertanya-tanya, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut, ingga kasus kejadian autisme bias meningkat tajam ? tren kenaikan inipun terjadi di berbagai negara, etrmasuk di Indonesia.

Jawabannya mungkin harus dicari di lingkup hidup kita sehari-hari.gaya hidup perkotaan yang makin kompetitif, pola amakan yang tidk karuan dengan penambahan zat aditif pada makanan semisal perasa, pewarna atau pengawet serta polusi lingkungan, bias jadi merupakan biang keroknya. Pada gilirannya, perubahan-perubahan tersebut bias menjadi pemicu mutasi gen, yakni perubahan susunan kode genetic yang emmicu gen-gen dalam tubuh menjadi gen “abnormal”.

Dugaan lain, autisme disebakan keracunan logam berat dari lingkungan. Diantaranya,

Banyak ahli percaya, masaah genetic memainkan peranna sangat besar untuk gangguan autisme. Meski tidak berarti anak autis pasti punya  keluarga penyandang  autisme. Padahal, ibaratnya pistol, tak akan meletus jika tidak ditarik pelatuknya. Begitu juga yang terjadi pada gangguan  autisme. Kalau tidak ada kejadian pencetusnya, gangguan autisme itu mungkin tidak akan muncul, kendati anak memiliki gen kecendrungan autisme. Menurut para ahli pencetusnya adalah penjelasan  dari apa saja yang  terjadi selama janin di perut ibu serta apa saja yang menimpah anak pada bulan-bulan awal perkembangan prenatal anak misalnya apakah terjadi  TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes), cacar air atau virus  apa yang menimpa si ibu. Sebab, virus yang masuk itu akan mengganggu pertumbuhan sel-sel otak yang sedang etrbentuk. Sel-sel otak si janin menjadi kurang jumlahnya. Sehingga lipatan-lipatan otak pun lebih jarang. Bukankah pada tiga bulan pertama, sel-sel otak janin sedang giat-giatnya dibentuk ? kemungkinan lain adalah ibu keracunan logam berat yang bersumber dari makanan yang sudah terkontaminasi  logam berat (smeisal ikan) atau dari tambalan gigi berupa amalgam atau logam plumbum atau timbal yang berasal dari asap kendaraan dan logam merkuri yang banyak terdapat disungai-sungai yang tercemar. Celakanya, tampilan logam-logam membahayakan tersebut tidak selamanya seperti yang kita bayangkan. Logam merkuri, contohnya, bukan tidak mungkin terdapat pada ikan tawar  maupun ikan laut yang secara fisik tampak sehat. Sementara plumbum bias menempel disayuran hijau yang ditanam ditepi jalan.

Sedangkan kontaminasi logam berat pada anak setelah lahir, bias bersumber  dari makanan atau vaksinasi yang emmakai merkuri (sejenis logam berat) sebagai pengawetnya.

 

Bayi premature atau lewat waktu lebih dari 4 minggu, ditemukan kasus-kasus gangguan  autisme  yang cukup signifikan. Ada pula bukti kuat , komplikasi saat kehamilan  maupun persalinan berasosiasi dengan  dengan ausitme. Dari penelitian  pada anak kembar yang salah satunya merupakan penyandang autisme ditemukan bahwa yang tidak didiagnosis autis ternyata  ternyata mengalami proses persalinan yang relative normal disbanding  kembaranynya yang autisme juga lebih banyak mengalami masalah.

Penelitian pada kembar identik dan kembar tidak identik mengungkapkan, anak-anak kembar identik memiliki kemungkianan yang lebih besar untuk didiagnosis autis bila saudaran kembarnya autis. Drai penelitian yang sama juga terungkap, anak kembar identik memikliki kemungkinan lebih besar (82 persen ) untuk mengalami abnormalitas kogitif. Jauh lebih besar disbanding anak-anak kembar tidak identik yang Cuma 10 persen konkordansi. Penelitian tersebut kemudian menyimpulkan, yang di”wariskan” pada gangguan autisme bukan hanya pola deficit kognitif, tapi juga dibidang social.

Beberapa factor  yang sejauh ini telah diasosiasi dengan autisme diantaranya adalah usia ibu (semakin tingi usia ibu, kemungkinan bayinya  menjadi penyandang autisme  kian besar), uruttan kelahiran (anak pertama atau anak keempat dan seterusnya  lebih berpotensi autis), adanya perdarahan pada kehamilan trisemester pertama dan kedua serta pengguanaan obat-obatan yang tidak terkontrol selama kehamilan.

Sampai saat ini didiguga, factor genetic berpengaruh kuat atas munculnya kasus autisme. Hanya saja mekanisme interaksi sperti apa yang berpengaruh, tetap menjadi misteri yang belum terjawab. Artinya proses pengaruh genetic pada kasus autisme ini ternya tidak bias dijelaskan dengan hokum Mendel, yakni hokum genetika yang menjelaskan tentang warna mata atau rambut, misalnya.

 

 

 

 

Kelainan neurologis

Karena pencetus gangguan autisme infantile terjadi ketika anak  masih berada dalam kandungan, semestinya kerusakan atau gangguan sudah terjadi ketika anak belum lahir. Pada beberapa  kasus autisme infantile, ditemukan ada perkembangan sel-sel otak, etrutama pada hippocampus dan amygdale yang tidak normal. Sel-sel ini tumbuhnya kecil-kecil dan rapat-rapat.

Adanya kelainan fungsi sel-sel otak membuat anak autis juga menunjukkan beberapa karakteristik yang ditemukan  pada anak yang mengalami gangguan disfungsi minimal otak semisal anak dengan gangguan hiperaktif. Anak-anak penyandang autisme ini tidak bias tinggal diam, tidak bias menatap /kontak mata  dengan lawan bicaranya, perhatiannya mudah teralih dan tidak bias  konsentrasi ketika diajak bicara.

Namun kalau dilihat gambaran struktur oaknya, memang tidak ditemukan perbedaan yang kasat mata bila dibandingkan dengan gambaran  otak orang normal. Sedangkan dari gambaran gelombang otaknya, anak autis yang mengalami reaks kejang akan menunjukkan gambaran gelombang yang abnormal. Namun  pada anak autis yang tidak menujukkan reaksi kejang, gambaran gelombang otaknya sama seperti layaknya orang normal. Sejauh ini, memang masih belum bias ditemukan karakteristik  khas dari penyandang autisme berdasarkan gambaran dari hasil pemeriksaaan neurologist.

Anak-anak yang didiagnosis  sebagai penyandang autis, umunya juga memulai kehidupan dengan banya masalah kesehatan fisik. Penelitian yang dialkukan pada pasangan kembar, dimana yang satu didiagnosis penyandang autisme, menunjukkan yang menderita autis cenderung lebih sering sait dibandingkan kembar yang tidak autis.

 

 

Deteksi dan intervensi dini

 

Kadang, kendati anak jelas-jelas menunjukkan keterlambatan perkembangan, kita tidak bias lansung mencapnya mengalami gangguan autisme. Bias saja karena sebab lain seperti retardasi mental semata atau anak autis yang diikuti dengan retardasi mental.

Diagnosa autisme sendiri mensyaratkan terpenuhinya minimal 6 gejala/perilaku dari 12 perilaku yang menjadi cirri-ciri autisme. Diagnosis ini berdasarkan patokan dari DSM IV (diagnostic and statistical manual of mental disorder edisi keempat) dari APA (American psychiatric association).

Yang jelas, diagnosa yang cepat dari ahli membuat anak bias terdeteksi sejak dini jika ia memang menderita autisme. Ini amat penting untuk memberi pengobatan  dan terapi yang tepat baginya. Semakin terlambat diagnosis  dilakukan, berarti  anak sudah kehilangan waktu beberapa bulan  bahkan tahun untuk memperoleh  intervensi yang memenag diperlukannya. Keterlambatan intervensi, membuat anak perlu waktu yang lebih panjang untuk mengejar ketertinggalannya dari patokan kemampuan perkembangan anak seusianya.

Apalagi dalam tahapan perkembangan anak, usia balita merpakan masa-masa terbaik. Maksudnya usia balita adalah saat yang paling efektif  untuk mempelajari sesuatu, sehingga dengan intervensi secara intensif dan optimal, diharapkan anak bias mendapat manfaat terbesar dari terapi.

Keuntungan lain dari deteksi dini adalah otak anak dibawah usia 3 tahun masih bersifat plastis artinya sel-sel otak  masih berkembang sedemikian rupa sehingga ketika ada gangguan pada salah satu  bagian otak, kemampuan otak pada daerahgangguan itu masih dapat diambil alih oleh bagian otak lainnya.

Selain itu, walau sel-sel otak tersebut memang tersu berkembang sampai kita dewasa, tapi usia 0-3 tahun  meruakan saat perkembangan sel otak berlansung paling pesat. Pada waktu ini, sel yang mengalami gangguan atau rusak bias disegera tergantikan oleh sel-sel baru. Disinilah terapi berperan sebagai stimulus bagi perkembangan fungsi sel otak tersebut.

 

 

 

 

[1] Autis adalah suatu

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s