PERLUKAH PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK ?

PERLUKAH  PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK ?

Hj. Siti Hikmah  S.Pd, M.Si[1]

 

Pendahuluan

Pro kontra perlu tidaknya pendidikan seks[2] (atau dalam bahasa medis disebut dengan kesehatan reproduksi) bagi anak  sampai hari ini masih menjadi perdebatan. Mereka yang tidak setuju beranggapan bahwa pertama, membicarakan tentang seks kepada anak, bukan akan menjauhkan mereka untuk tidak melakukan perilaku seksual pranikah tapi justru menstimulasi mereka untuk mencoba melakukan perilaku seksual pranikah ketika mereka menjadi remaja.  Kedua, seks adalah naluri semua orang sehingga tidak perlu diajarkan karena nanti pada waktunya ketika menikah semua orang akan tahu dengan sendirinya. Ketiga, tabu bagi orang dewasa  membicarakan hal-hal yang tidak pantas alias “saru”, “tidak sopan” kepada anak, sama dengan mengajarkan sesuatu yang “tidak perlu”.

Sedangkan mereka yang setuju pendidikan seks perlu, bahkan wajib hukumnya diberikan kepada anak beralasan banyaknya hasil riset yang menunjukkan bahwa perilaku  seksual remaja sekarang cenderung berada dalam tataran yang menghawatirkan. Kalau dilihat banyaknya kasus-kasus yang muncul berkaitan dengan perilaku seksual anak, misalnya beberapa kasus anak usia 9 tahun memperkosa kakak kelasnya yang berusia 11 tahun beramai-ramai[1].   

Bahkan yang membuat heboh acara seminar disurabaya, seorang remaja yang berumur 13 tahun sms teman wanitanya yang berumur 12, isi sms “ benar kan yang kataku, kalau masih pertama melakukan  sakitnya sebentar, hanya perih sedikit, nanti enak. kapan kita coba lagi ?

Pada hal jika dilihat dari usinya yang masih anak-anak. Perilaku seks bebas remaja (remaja SMP dikota semarang 75 % sudah melakukan ML)[3], aktifitas remaja merambah ke masalah lain yaitu 100 juta tertular penyakit kelamin. Secara  global, 40 % dari kasus HIV/Aids terjadi pada usia 15-24 tahun. Ini berarti setiap hari ada  7000 remaja terpapar HIV/Aids, belum lagi kasus hamil pranikah (65 % bayi dilahirkan ketika pernikahan belum berusia 6 bulan), aborsi (58 persen dari 2.558 kasus aborsi dilakukan oleh remaja usia 14-19 tahun) maupun pembuangan bayi hasil hubungan gelap yang dilakukan oleh remaja. 

Dengan alasan diatas, menunjukkan ada penyimpangan perilaku seksual pada sebagian anak-remaja. Dan tentunya kita sepakat bahwa perilaku menyimpang yang berkaitan dengan kehidupan seksual remaja perlu untuk segera diluruskan, karena disamping perilaku ini bertentangan dengan nilai-nilai agama, kemanusiaan, nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat.

Perilaku menyimpang tersebut juga akan merusak citra diri remaja, citra keluarga maupun mengganggu kesehatan reproduksi remaja sendiri. Jika pendidikan seks perlu diberikan kepada remaja, lantas sejak kapan mulai diberikan ? bagaimana jika pendidikan seks masuk dalam kurikulum pendidikan formal, materinya meliputi apa saja ? apa saja yang perlu kita upayakan sehingga remaja mempunyai kehidupan seks/ reproduksi yang sehat?

 

Perilaku Seksual Pranikah dalam Perspektif  Psikologi

Perilaku seksual  merupakan hasil interaksi antara kepribadian dengan lingkungan sekitarnya, berikut beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah :

  1. Perspektif biologis : perubahan biologis yang terjadi pada masa pubertas dan pengaktifan hormonal dapat menimbulkan perilaku seksual
  2. Pengaruh orang tua. Kurangnya komunikasi secara terbuka dengan orang tua tentang masalah seputar reproduksi dapat memperkuat munculnya penyimpangan perilaku seksual
  3. Pengaruh teman sebaya : pengaruh teman sebaya  yang sanagt kuat memunculkan penyimpangan perilaku seksual yang dikaitkan dengan norma subyektif kelompok sebaya
  4. Pengaruh pacar. Hal ini berkaitan dengan keyakinan akan perasaann ingin memiliki dan mencintai pasangan seutuhnya mesi seringkali apa yang dipersepsikan tidak benar. Konformitas , diaman remaja ingin menjadi bagian dari pacarnya dnegan mengikuti norma-norma dan keyakinan yang telah dianut oleh pacarnya dengan alasan sebagai bagian dari rasa memiliki antar pasnagan dan sebagai bentuk ekspresi rasa cinta antar keduanya.
  5. Pespektif belajar. Individu dengan prestasi belajar yang rendah cenderung lebih sering memunculkan aktivitas sesual dibandingkan individu dnegan prestasi yang baik disekolah
  6. Perspekstif sosial kognitif. Kemampuan social kognitif diasosiasikan dengan pengambilan keputusan yang emnyediakan pemahaman perilaku seksual. Individu yang mampu mengambil keputusan secara tepat berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya dapat lebih menampilkan perilaku seksual yang lebih sehat.

Hasil penelitian Baseline Survey terhadap 190 siswa SMK dan SMA di Kota Bandung tahun 2000, mengungkapkan bahwa alasan yang paling dominan ketika melakukan hubungan seksual pranikah adalah upaya menyalurkan hasrat seksual dan bentuk pengungkapan cinta.

Dalam triangle of love, Steinberg menyebutnya sebagai passion atau nafsu yang menggerakkan cinta. Perilaku seksual pranikah remaja dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya (pacar) tanpa disertai komitmen yang jelas ( romantic love).

Menurut Carlo Hendrick bagi remaja pria yang biasanya mengawali seks pranikah hanya untuk rekreasi atau having fun. Pacar hanyalah obyek pengganti karena sebelumnya remaja mengalami sendiri perilaku seksualnya, autoerotic behavior. Makna pengalaman menyenangkan ini termanivestasi dalam cerita-cerita overestimate pengalaman seksual diantara remaja pria. Ini menjadi topic  dalam pembicaraan sehari-hari bahkan ada yang menjadikan proyek kejantanan, yang menjerat  sebanyak mungkin remaja perempuan untuk having seks.

Faktor lain yang menyebabkan remaja melakukan hubungan seks pranikah adalah dorongan rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang berkaitan dengan seks yang belum diketahui sebelumnya. Hal ini dikarenakan remaja mempunyia kecendrungan untuk mengadopsi informasi yang diterima  dari teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan dari sumber yang lebih dapat dipercaya, sehingga dapat menimbulkan rasa penasaran dalam membuktikan kebenaran informasi yang diterimanya dengan mencoba dan mengalami sendiri perilaku hubungan seksual pranikah.

Jika dikaitkan dengan motif individu, pada dasarnya ada beberapa hal yang menjadi motif individu dalam melakukan hubungan seksual pranikah :

  1. Dorongan seksual sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya
  2. Dorongan afeksi (menyatakan atau menerima ungkapan kasih sayang melalui aktivitas seksual)
  3. Dorongan agresif (keingianan untuk menyakiti orang lain)
  4. Terpaksa, diperkosa, dipaksa pacar karena idak bisa menolak ajakan melakukan hubungan seksual. Takut kehilangan pacar dan lain sebagianya
  5. Dorongan untuk mendapatkan fasilitas atau materi melalui aktiviitas seksual
  6. Dorongan untuk diakui oleh kelompoknya.
  7. Dorongan untuk mencoba atau membuktikan fungsi atau kemampuan dari organ reproduksinya.

 

Mengapa Harus Sekarang ?

Pemberian informasi tentang pendidikan seks idealnya diberikan sejak dini, kenapa ? Pertama, arus informasi tentang seks yang sangat deras dan menarik. Informasi tersebut didapat remaja melalui :

  1. Tontonan.

Sadar atau tidak, kini setiap hari anak-anak kita  belajar seks melalui tayangan yang mereka tonton  di televise, video, atau bioskop. Di televise misalnya, seks dikemas sangat halus dan sangat menarik dalam cerita : sinetron, telenovela, film cerita, klip musik dan beragam acara lainnya bahkan dalm film kartun. Dalam penelitian terhadap remaja , mereka mengatakan bahwa mereka teransang menyaksikan acara-acara tersebut. Pendapat itu masuk akal. Perhatikanlah pakaian yang dikenakan para pemain artis  semakin ketat dan terbuka. Bukan hanya dada yang rendah atau paha yang nampak tapi juga mempertontonkan keindahan pusar dan bagian bawah pinggul. Bahkan penyanyi cilik pun berpakaian serupa.

  1. Melalui Media Cetak.

Selain lewat tontonan, anak-anak kita dihadapkan pula pada gambar-gambar seronok dan berita-berita di media cetak yang dapat dilihat dan dibaca dengan mudah.

  1. Melalui Teman dan sumber lain.

Anak remaja cenderung lebih percaya pada teman-teman mereka dari pda orang tua. Mereka dapat memperoleh informasi apa saja yang belum tentu semuanya benar, melalui teman-teman atau sumber lain.

Kedua, persiapan menjelang baligh. Bukan hanya di negeri kita, dinegara yang sudah majupun umumnya masyarakat mengangap bahwa seks atau reproduksi sehat merupakan masalah yang tidak pantas atau tabu untuk dibicarakan secara terbuka, terutama dengan anak-anak. Hal ini disebabkan kebanyakan orang tua  merasa malu dan tidak tega,  serta tidak tahu memulainya dari mana dan bagaimana menjelaskannya.

Karena itu pada umunya orang tua menunggu sampai anaknya baligh untuk menjelaskan sesuatu tentang reproduksi, terutama untuk anak perempuan. Sementara anak laki-laki umunya banyak terabaikan karena balighnya tidak nampak. Kebiasaan ini tidak bijaksana  dipertahankan karena :

  1. Masa baligh pada anak berbeda tergantung  kondisi fisik dan hal-hal lain dalam tubuh dan lingkungan mereka. Umumnya anak perempuan mulai baligh umur 9-14 tahun sedangkan laki-laki 10-14 tahun.
  2. Apabila anak sudah baligh, ada keharusan hukum mulai berlaku begitu anak tersebut baligh yaitu mereka dianggap sudah dewasa dan mulai bertanggung jawab terhadap segala niat dan perbuatan yang mereka  lakukan. Mereka harus melakukan mandi wajib setelah mereka mengalami mimpi basah atau setelah menstruasi. Kewajiiban mengganti puasa bagi perempuan karena tidak puasa selama bulan ramadhan.

Karena waktu baligh tersebut tidak pasti, sementara banyak hal harus dipersiapkan bagi anak, maka adalah tidak mungkin persiapan tersebut dilakukan serta merta. Apalagi saat ketahuan anak mulai baligh. Hal ini terutama harus diperhatikan bagi anak laki-laki yang balighnya tidak kasat mata.

  1. Karena anak dihadapkan pada informasi seks setiap hari maka mereka membutuhkan informasi yang menjelaskan dengan benar tentang segala sesuatu tentang seks. Bila kita tidak memenuhi kebutuhan anak akan informasi tersebut maka mereka akan mencari informasi diluar rumah dari sumber lain seperti majalah, tabloid, film , video, atau sumber sejenisnya.

Ketiga,  karena banyaknya kekerasan seksual yang dilakukan pada anak oleh orang-orang sekitar. Baik oleh orang dewasa maupun oleh anak-aak dibawah umur. Seperti yang sampaikan oleh anak  laki-laki yang masih sekolah di PAUD[4] dengan penulis.

“ bu, kemaren ruly diajak main gentu-gentuan[5]. Yang jadi genthu aku, mas ku (kelas dua SMP) dan norman (kelas 5 SD) di belakang rumah pas siang-siang, caranya celana dalam ruly dibuka terus bergantian “manue” masku, aku dan ali dimasukkan ke “manue” ruly.

 

Keempat,  agar remaja memahami pentingnya pendidikan seks dan untuk mencegah biasnya pendidikan seks maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dikalangan remaja. Beberapa hal pentingnya pendidikan seks bagi remaja adalah

  1. Untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja
  2. Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya
  3. Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya
  4. Memahami masalah-masalah seksualitas remaja
  5. Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah seksualitas

 

Materi  Pendidikan Seks

Menurut Kartono Muhammad, pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan  membina keluarga dan menjadi  orang tua  yang bertanggung jawab. Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual  yang baik harus  dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat.

Pendidikan seksual selain menjelaskan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus menerangkan unsur—unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

            Agar remaja mempunyai pemahaman tentang seksualitas yang sehat dan benar, maka peran sekolah sangat penting dan strategis. Karena pengetahuan yang diperoleh remaja akan seragam,  sistematis dan terprogram. Namun masalahnya bagaimana teknisnya agar pemahaman tentang seksualitas tidak justru memprovokasi untuk coba-coba.

Jika disusun materi pendidikan seks bagi remaja[6]  meliputi :

  1. Memahami Alat dan Fungsi Reproduksi
  2. Remaja Memahami Dirinya
  3. Perilaku Seks ( dalam Pandangan Hukum, Agama, Sosial dan Psikologi)
  4. Pernikahan Dini
  5. PMS (Ciri, Penyebab dan Jenis)
  6. HIV/Aids (Sejarah, Ciri, Penyebab serta Proses)
  7. Kehamilan di Luar Nikah (Penyebab, Resiko sosial, Kesehatan serta Agama)
  8. Aborsi (dalam Konteks Medis, Psikologis, Sosial, Hukum dan Agama)
  9. Konseling KRR

Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana teknis pelaksanaannya apakah dimasukkan dalam program kurikulum muatan lokal atau dalam pengembangan diri dalam ekstrakurikuler. Kalau masuk dalam ekstrakurikuler maka sifatmya  hanya pilihan dan bisa dikaitkan dengan bidang lain. Kalau masuk dalam intrakurikuler  ada beberapa hal yang perlu disiapkan terlebih dahulu agar program pendidikan seks ini bisa mencapai sasaran, maka perlu dipersiapkan standar kompetensinya dan kompetensi dasarnya, siapa gurunya, berapa waktu yang disediakan, bagaimana metodenya, bagaimana media yang digunakan, bagaimana sistem penilaiannya, bagaimana sarana dan prasarananya.

Dari sisi lain yang perlu disiapkan adalah apakah anak sudah siap secara psikologis maupun fisiologis dan juga apakah masyarakat sudah siap menerima kenyataan bahwa kehidupan orang dewasa dibicarakan secara terbuka. Disamping aspek kurikulum, guru, siswa, masyarakat juga perlu dipikirkan sarana pendukung misalnya buku paket. Hal-hal seperti ini harus dipikirkan terlebih dahulu karena pada dasarnya tingkat perkembangan psikologis remaja berbeda dengan orang dewasa, sehigga harus dipertimbangkan dan dipersiapkan yang matang agar program pendidikan ini justru menjadi bumerang bagi kehidupan remaja karena tergesa-gesa karena tuntutan modernisasi kesalahan dalam mendesainnya.

 

Upaya Dalam Meminimalisir Perilaku Seksual Remaja

selain upaya memasukkan materi pendidikan seks didalam sekolah, juga diperlukan langkah nyata dalam meminimalkan perilaku seks pranikah remaja dan pemerintahlah yang harus  menjadi pelopornya, dibantu oleh kita semua.  Beberapa  hal perlu  kita lakukan adalah :

Pertama, mengikis kemiskinan. Sebab kemiskinan inilah yang membuat abanyak orang tua (juga orang dewasa lainnya) tega untuk melacurkan anak dan remaja. Ini adalah tugas “wajib” pemerintah. Bisa dimulai dengan sungguh-sungguh mengikis  korupsi, dalam segala tataran, disegala bidang.

Kedua, menyediakan informasi tentang kesehatan reproduksi. Tidak tersedianya informasi yang akurat dan “benar” tentang kesehatan reproduksi memaksa remaja  melakukan eksplorasi sendiri, baik melalui media cetak, elektronik)maupun pertemanan yang besar kemungkinan justru salah. Apalagi masih banyak mitos menyesatkan seperti mitos melalui hubungan seks yang hanya dilakukan sekali takkan menyebabkan kehamilan. Ataupun berbagai metode pencegahan kehamilan yang salah misalnya basuh vagina berkarbonasi, lari-lari ditempat atau squat jump segera setelah berhubungan seksual. Belum lagi mitos kehamilan tidak akan terjadi pada perempuan yang belum mengalami menstruasi.

Ketiga, memperbanyak akses pelayanan kesehatan, yang iringi dengan sarana konseling. Hal ini penting mengingat masalah kesehatan reproduksi remaja tidak hanya terjadi di kota besar. Langkah ini, bisa berupa Konseling KRR disetiap sekolah atau PT.

Keempat, meningkatkan partisipasi remaja, dengan mengembangkan “peer educator” (pendidik sebaya) yang diharapkan membantu remaja membahas dan menangani permasalahannya, termasuk kesehatan reproduksi. Langkah ini penting mengingat kehidupan remaja sangat dipengaruhi teman sebaya. Langkah ini juga akan membuat remaja merasa dihargai, didengar, dilibatkan.

Keenam, meminimalkan informasi tentang kebebasan seks. Dalam hal ini media massa dan media hiburan sangat berperan penting. Masyarakat mesti menekan ragam media untuk menampilkan berbagai informasi dan berita rekreatif lain bagi para remaja yang mungkin bisa menjadi rujukan alternative  bagi remaja, yang mungkin bisa menjadi rujukan alternative untuk mengalihkan kegiatan rekreatif seksualitas. Mungkin dengan tayangan-tayangan alternative itu kaum muda akan punya pilihan beragam untuk menyalurkan keadaan psikologis dan aktivitasnya tidak hanya ke hal-hal yang hedonistic.

 Ketujuh, menciptakan lingkungan keluarga yang kokoh, kondusif, mendukung dan informative. Pandangan bahwa seks adalah tabu, yang telah sekian lama tertanam, membuat remaja enggan bertanya tentang kesehatan reproduksi kepada orang tuanya. Bahkan justru merasa paling tidak nyaman bila harus membahas seksualitas dengan orang tuanya.

Kedelapan, mengalihkan penyaluran hasrat seksual kaum muda ke berbagai bentuk seperti pada kegiatan olah raga, kesenian, latihan keterampilan dan keahlian di sekolah atau ruang public lain, guna melengkapi atau membuat keseimbangan dengan fasilitas rekreatif dan hiburan yang tidak berbau seks.

 

Penutup

Remaja sering dicap sebagai sumber masalah oleh orang dewasa., hanya sedikit yang menyadari bahwa remaja membutuhkan banyak informasi yang menyangkut perubahan-perubahan yang terjadi  dalam dirinya, baik fisik maupun emosi. Mereka juga membutuhkan dukungan untuk bisa menjadi individu yang sesuai dengan figure identitasnya yang positif. Mereka membutuhkan “teman” ketika mereka harus memutuskan sesuatu demi masa depannya.

Oleh karena itu orang tua dan kaum pendidik harus bersikap lebih tanggap dalam menjaga dan mendidik  remaja agar berhati-hati terhadap gejala-gejala sosial, terutama yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi  yang berlangsung saat ini, sudah saatnya pemberian penjelasan dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja ditingkatkan. Karena pandangan sebagian besar masyarakat yang menganggap kesehatan reproduksi (terutama seksualitas) adalah suatu hal yang alamiah, yang nantinya akan diketahui dengan sendirinya setelah mereka dewasa dan  menikah sehingga dianggap suatu hal tabu untuk diinginkan dan membahayakan bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa sudah tidak relevan dengan perkembangan informasi melalui teknologi yang mudah diakses oleh remaja.

Saat ini setidaknya ada 44 juta remaja ditanah air (sekitar 20 persen), kepada merekalah sesungguhnya kita “menitipkan” masa depan, karena itu sangatlah tidak tepat apabila kita tidak peduli atas kualitas mereka, termasuk kualitas kesehatan reproduksi mereka.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ashadi Siregar, 2002, Aids, Gender dan Kesehatan Reproduksi, Yogyakarta, LP3Y

BKKBN, 2002, Kesenjangan Gender dan Faktor Penyebabnya, Ada Apa dengan Gender dalam KB dan Kesehatan Reproduksi, Jakarta.

BKKBN Jawa Timur, 2001, Memahami Dunia Remaja (Seri Informasi KRR, Buku Bacaan Orang Tua) Edisi II.

Departemen Kesehatan Direktorat Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM-PL), 2005,  Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia, Jakarta.

YLKI, Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan (seri perempuan mengenali dirinya), 2002.

Mary Pipher, PhD, 1994, Reviving Ophelia : Saving the Selves of Adolescent Girls (New Ballatintine Books)

Miriam Stoppard Dr, 1994, Womans Body, A Manual for Life, Dorling Kinderslay Ltd.

Nina Hendarwati, 2001, Sketsa Kesehatan Reproduksi Perempuan Desa, Yayasan Pengembangan Pedesaan bekerjasama dengan Ford Foundation, YPP Press.

Neni utami Adiningsih, 2004, Buruk, Kesehatan Reproduksi Remaja, Pikiran  Rakyat

Santrock, 2003, Adolescence : Perkembangan Remaja, Erlangga

Siegler, Ava L. Phd. 1998. The Essential Guide to the New Adolescence : How to Raise an Emotionally Healthy Teenager, Plume.

UNAIDS, 2004, AIDS Epidemic Update (geneve Switzeeland:UNAIDS, 2004)

[1] Suara merdeka/10  Februari  2015

[1] Dosen Fakultas dakwah dan Komunikasi  UIN Walisongo Semarang

[2]Dalam Kongres Kependudukan dan Pembangunan  (ICPD) Kairo tahun 1994, kesehatan reproduksi diberikan definisi secara formal dan menyeluruh, yaitu  A state of complete physical, menta and social well-being and not morely the disease or infirmity. Dari hal tersebut tersirat dua hal berkaitan dengan kesehatan tidak hanya sebatas kesehatan fisik, tetapi juga mental dan sosial. Pengertian kesehatan secara sosial pada umumnya ditafsirkan sebagai kemampuan orang dalam  melakukan interaksi sosial serta kemampuan memanifestasikan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga ia mampu hidup produktif dimasyarakat (lihat deklarasi Alma Ata tahun 1978). Seseorang karena keadaan dirinya menjadikan ia tidak mampu melakukan fungsi sosial secara normal, dapat dianggap telah mengalami ganguan kesehatan sosial.

[3] Suara merdeka,  10/02/2015

[4] Salah satu PAUD yang berada dipelosok Desa Wanutunggal  Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan

[5] Genthu dalam bahasa jawa berarti orang nakal atau penjahat. Anak paud dan SD yang terlibat dalam kegiatan tersebut tidak tahu-menahu  apa makna  kegiatan tersebut, dia hanya mnegikuti apa yang diperintahkan oleh kakaknya yang sudah SMP. Dan gadis kecil tersebut juga ikut saja ketika dia disuruh membuka celana dalamnya dan kemudian menjadi korban pelecehan  seksual , makalah proposal KPD UIN Walisongo Semarang 2015, hal. 4

[6] Dalam menyampaikannya, beberapa hal penting yang patut diperhatikan:

  1. Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu-malu
  2. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau symbol seperti proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.
  3. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin karena perkembangan dari semua aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut.
  4. Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-ahap perkembangan tidak saa buat setiap anak. Dengan pedekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapt disesuaikan dengan keadaan khusus anak.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s