PERLUKAH PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK ?

PERLUKAH  PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK ?

Hj. Siti Hikmah  S.Pd, M.Si[1]

 

Pendahuluan

Pro kontra perlu tidaknya pendidikan seks[2] (atau dalam bahasa medis disebut dengan kesehatan reproduksi) bagi anak  sampai hari ini masih menjadi perdebatan. Mereka yang tidak setuju beranggapan bahwa pertama, membicarakan tentang seks kepada anak, bukan akan menjauhkan mereka untuk tidak melakukan perilaku seksual pranikah tapi justru menstimulasi mereka untuk mencoba melakukan perilaku seksual pranikah ketika mereka menjadi remaja.  Kedua, seks adalah naluri semua orang sehingga tidak perlu diajarkan karena nanti pada waktunya ketika menikah semua orang akan tahu dengan sendirinya. Ketiga, tabu bagi orang dewasa  membicarakan hal-hal yang tidak pantas alias “saru”, “tidak sopan” kepada anak, sama dengan mengajarkan sesuatu yang “tidak perlu”.

Sedangkan mereka yang setuju pendidikan seks perlu, bahkan wajib hukumnya diberikan kepada anak beralasan banyaknya hasil riset yang menunjukkan bahwa perilaku  seksual remaja sekarang cenderung berada dalam tataran yang menghawatirkan. Kalau dilihat banyaknya kasus-kasus yang muncul berkaitan dengan perilaku seksual anak, misalnya beberapa kasus anak usia 9 tahun memperkosa kakak kelasnya yang berusia 11 tahun beramai-ramai[1].   

Bahkan yang membuat heboh acara seminar disurabaya, seorang remaja yang berumur 13 tahun sms teman wanitanya yang berumur 12, isi sms “ benar kan yang kataku, kalau masih pertama melakukan  sakitnya sebentar, hanya perih sedikit, nanti enak. kapan kita coba lagi ?

Pada hal jika dilihat dari usinya yang masih anak-anak. Perilaku seks bebas remaja (remaja SMP dikota semarang 75 % sudah melakukan ML)[3], aktifitas remaja merambah ke masalah lain yaitu 100 juta tertular penyakit kelamin. Secara  global, 40 % dari kasus HIV/Aids terjadi pada usia 15-24 tahun. Ini berarti setiap hari ada  7000 remaja terpapar HIV/Aids, belum lagi kasus hamil pranikah (65 % bayi dilahirkan ketika pernikahan belum berusia 6 bulan), aborsi (58 persen dari 2.558 kasus aborsi dilakukan oleh remaja usia 14-19 tahun) maupun pembuangan bayi hasil hubungan gelap yang dilakukan oleh remaja. 

Dengan alasan diatas, menunjukkan ada penyimpangan perilaku seksual pada sebagian anak-remaja. Dan tentunya kita sepakat bahwa perilaku menyimpang yang berkaitan dengan kehidupan seksual remaja perlu untuk segera diluruskan, karena disamping perilaku ini bertentangan dengan nilai-nilai agama, kemanusiaan, nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat.

Perilaku menyimpang tersebut juga akan merusak citra diri remaja, citra keluarga maupun mengganggu kesehatan reproduksi remaja sendiri. Jika pendidikan seks perlu diberikan kepada remaja, lantas sejak kapan mulai diberikan ? bagaimana jika pendidikan seks masuk dalam kurikulum pendidikan formal, materinya meliputi apa saja ? apa saja yang perlu kita upayakan sehingga remaja mempunyai kehidupan seks/ reproduksi yang sehat?

 

Perilaku Seksual Pranikah dalam Perspektif  Psikologi

Perilaku seksual  merupakan hasil interaksi antara kepribadian dengan lingkungan sekitarnya, berikut beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah :

  1. Perspektif biologis : perubahan biologis yang terjadi pada masa pubertas dan pengaktifan hormonal dapat menimbulkan perilaku seksual
  2. Pengaruh orang tua. Kurangnya komunikasi secara terbuka dengan orang tua tentang masalah seputar reproduksi dapat memperkuat munculnya penyimpangan perilaku seksual
  3. Pengaruh teman sebaya : pengaruh teman sebaya  yang sanagt kuat memunculkan penyimpangan perilaku seksual yang dikaitkan dengan norma subyektif kelompok sebaya
  4. Pengaruh pacar. Hal ini berkaitan dengan keyakinan akan perasaann ingin memiliki dan mencintai pasangan seutuhnya mesi seringkali apa yang dipersepsikan tidak benar. Konformitas , diaman remaja ingin menjadi bagian dari pacarnya dnegan mengikuti norma-norma dan keyakinan yang telah dianut oleh pacarnya dengan alasan sebagai bagian dari rasa memiliki antar pasnagan dan sebagai bentuk ekspresi rasa cinta antar keduanya.
  5. Pespektif belajar. Individu dengan prestasi belajar yang rendah cenderung lebih sering memunculkan aktivitas sesual dibandingkan individu dnegan prestasi yang baik disekolah
  6. Perspekstif sosial kognitif. Kemampuan social kognitif diasosiasikan dengan pengambilan keputusan yang emnyediakan pemahaman perilaku seksual. Individu yang mampu mengambil keputusan secara tepat berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya dapat lebih menampilkan perilaku seksual yang lebih sehat.

Hasil penelitian Baseline Survey terhadap 190 siswa SMK dan SMA di Kota Bandung tahun 2000, mengungkapkan bahwa alasan yang paling dominan ketika melakukan hubungan seksual pranikah adalah upaya menyalurkan hasrat seksual dan bentuk pengungkapan cinta.

Dalam triangle of love, Steinberg menyebutnya sebagai passion atau nafsu yang menggerakkan cinta. Perilaku seksual pranikah remaja dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya (pacar) tanpa disertai komitmen yang jelas ( romantic love).

Menurut Carlo Hendrick bagi remaja pria yang biasanya mengawali seks pranikah hanya untuk rekreasi atau having fun. Pacar hanyalah obyek pengganti karena sebelumnya remaja mengalami sendiri perilaku seksualnya, autoerotic behavior. Makna pengalaman menyenangkan ini termanivestasi dalam cerita-cerita overestimate pengalaman seksual diantara remaja pria. Ini menjadi topic  dalam pembicaraan sehari-hari bahkan ada yang menjadikan proyek kejantanan, yang menjerat  sebanyak mungkin remaja perempuan untuk having seks.

Faktor lain yang menyebabkan remaja melakukan hubungan seks pranikah adalah dorongan rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang berkaitan dengan seks yang belum diketahui sebelumnya. Hal ini dikarenakan remaja mempunyia kecendrungan untuk mengadopsi informasi yang diterima  dari teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan dari sumber yang lebih dapat dipercaya, sehingga dapat menimbulkan rasa penasaran dalam membuktikan kebenaran informasi yang diterimanya dengan mencoba dan mengalami sendiri perilaku hubungan seksual pranikah.

Jika dikaitkan dengan motif individu, pada dasarnya ada beberapa hal yang menjadi motif individu dalam melakukan hubungan seksual pranikah :

  1. Dorongan seksual sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya
  2. Dorongan afeksi (menyatakan atau menerima ungkapan kasih sayang melalui aktivitas seksual)
  3. Dorongan agresif (keingianan untuk menyakiti orang lain)
  4. Terpaksa, diperkosa, dipaksa pacar karena idak bisa menolak ajakan melakukan hubungan seksual. Takut kehilangan pacar dan lain sebagianya
  5. Dorongan untuk mendapatkan fasilitas atau materi melalui aktiviitas seksual
  6. Dorongan untuk diakui oleh kelompoknya.
  7. Dorongan untuk mencoba atau membuktikan fungsi atau kemampuan dari organ reproduksinya.

 

Mengapa Harus Sekarang ?

Pemberian informasi tentang pendidikan seks idealnya diberikan sejak dini, kenapa ? Pertama, arus informasi tentang seks yang sangat deras dan menarik. Informasi tersebut didapat remaja melalui :

  1. Tontonan.

Sadar atau tidak, kini setiap hari anak-anak kita  belajar seks melalui tayangan yang mereka tonton  di televise, video, atau bioskop. Di televise misalnya, seks dikemas sangat halus dan sangat menarik dalam cerita : sinetron, telenovela, film cerita, klip musik dan beragam acara lainnya bahkan dalm film kartun. Dalam penelitian terhadap remaja , mereka mengatakan bahwa mereka teransang menyaksikan acara-acara tersebut. Pendapat itu masuk akal. Perhatikanlah pakaian yang dikenakan para pemain artis  semakin ketat dan terbuka. Bukan hanya dada yang rendah atau paha yang nampak tapi juga mempertontonkan keindahan pusar dan bagian bawah pinggul. Bahkan penyanyi cilik pun berpakaian serupa.

  1. Melalui Media Cetak.

Selain lewat tontonan, anak-anak kita dihadapkan pula pada gambar-gambar seronok dan berita-berita di media cetak yang dapat dilihat dan dibaca dengan mudah.

  1. Melalui Teman dan sumber lain.

Anak remaja cenderung lebih percaya pada teman-teman mereka dari pda orang tua. Mereka dapat memperoleh informasi apa saja yang belum tentu semuanya benar, melalui teman-teman atau sumber lain.

Kedua, persiapan menjelang baligh. Bukan hanya di negeri kita, dinegara yang sudah majupun umumnya masyarakat mengangap bahwa seks atau reproduksi sehat merupakan masalah yang tidak pantas atau tabu untuk dibicarakan secara terbuka, terutama dengan anak-anak. Hal ini disebabkan kebanyakan orang tua  merasa malu dan tidak tega,  serta tidak tahu memulainya dari mana dan bagaimana menjelaskannya.

Karena itu pada umunya orang tua menunggu sampai anaknya baligh untuk menjelaskan sesuatu tentang reproduksi, terutama untuk anak perempuan. Sementara anak laki-laki umunya banyak terabaikan karena balighnya tidak nampak. Kebiasaan ini tidak bijaksana  dipertahankan karena :

  1. Masa baligh pada anak berbeda tergantung  kondisi fisik dan hal-hal lain dalam tubuh dan lingkungan mereka. Umumnya anak perempuan mulai baligh umur 9-14 tahun sedangkan laki-laki 10-14 tahun.
  2. Apabila anak sudah baligh, ada keharusan hukum mulai berlaku begitu anak tersebut baligh yaitu mereka dianggap sudah dewasa dan mulai bertanggung jawab terhadap segala niat dan perbuatan yang mereka  lakukan. Mereka harus melakukan mandi wajib setelah mereka mengalami mimpi basah atau setelah menstruasi. Kewajiiban mengganti puasa bagi perempuan karena tidak puasa selama bulan ramadhan.

Karena waktu baligh tersebut tidak pasti, sementara banyak hal harus dipersiapkan bagi anak, maka adalah tidak mungkin persiapan tersebut dilakukan serta merta. Apalagi saat ketahuan anak mulai baligh. Hal ini terutama harus diperhatikan bagi anak laki-laki yang balighnya tidak kasat mata.

  1. Karena anak dihadapkan pada informasi seks setiap hari maka mereka membutuhkan informasi yang menjelaskan dengan benar tentang segala sesuatu tentang seks. Bila kita tidak memenuhi kebutuhan anak akan informasi tersebut maka mereka akan mencari informasi diluar rumah dari sumber lain seperti majalah, tabloid, film , video, atau sumber sejenisnya.

Ketiga,  karena banyaknya kekerasan seksual yang dilakukan pada anak oleh orang-orang sekitar. Baik oleh orang dewasa maupun oleh anak-aak dibawah umur. Seperti yang sampaikan oleh anak  laki-laki yang masih sekolah di PAUD[4] dengan penulis.

“ bu, kemaren ruly diajak main gentu-gentuan[5]. Yang jadi genthu aku, mas ku (kelas dua SMP) dan norman (kelas 5 SD) di belakang rumah pas siang-siang, caranya celana dalam ruly dibuka terus bergantian “manue” masku, aku dan ali dimasukkan ke “manue” ruly.

 

Keempat,  agar remaja memahami pentingnya pendidikan seks dan untuk mencegah biasnya pendidikan seks maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dikalangan remaja. Beberapa hal pentingnya pendidikan seks bagi remaja adalah

  1. Untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja
  2. Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya
  3. Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya
  4. Memahami masalah-masalah seksualitas remaja
  5. Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah seksualitas

 

Materi  Pendidikan Seks

Menurut Kartono Muhammad, pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan  membina keluarga dan menjadi  orang tua  yang bertanggung jawab. Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual  yang baik harus  dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat.

Pendidikan seksual selain menjelaskan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus menerangkan unsur—unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

            Agar remaja mempunyai pemahaman tentang seksualitas yang sehat dan benar, maka peran sekolah sangat penting dan strategis. Karena pengetahuan yang diperoleh remaja akan seragam,  sistematis dan terprogram. Namun masalahnya bagaimana teknisnya agar pemahaman tentang seksualitas tidak justru memprovokasi untuk coba-coba.

Jika disusun materi pendidikan seks bagi remaja[6]  meliputi :

  1. Memahami Alat dan Fungsi Reproduksi
  2. Remaja Memahami Dirinya
  3. Perilaku Seks ( dalam Pandangan Hukum, Agama, Sosial dan Psikologi)
  4. Pernikahan Dini
  5. PMS (Ciri, Penyebab dan Jenis)
  6. HIV/Aids (Sejarah, Ciri, Penyebab serta Proses)
  7. Kehamilan di Luar Nikah (Penyebab, Resiko sosial, Kesehatan serta Agama)
  8. Aborsi (dalam Konteks Medis, Psikologis, Sosial, Hukum dan Agama)
  9. Konseling KRR

Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana teknis pelaksanaannya apakah dimasukkan dalam program kurikulum muatan lokal atau dalam pengembangan diri dalam ekstrakurikuler. Kalau masuk dalam ekstrakurikuler maka sifatmya  hanya pilihan dan bisa dikaitkan dengan bidang lain. Kalau masuk dalam intrakurikuler  ada beberapa hal yang perlu disiapkan terlebih dahulu agar program pendidikan seks ini bisa mencapai sasaran, maka perlu dipersiapkan standar kompetensinya dan kompetensi dasarnya, siapa gurunya, berapa waktu yang disediakan, bagaimana metodenya, bagaimana media yang digunakan, bagaimana sistem penilaiannya, bagaimana sarana dan prasarananya.

Dari sisi lain yang perlu disiapkan adalah apakah anak sudah siap secara psikologis maupun fisiologis dan juga apakah masyarakat sudah siap menerima kenyataan bahwa kehidupan orang dewasa dibicarakan secara terbuka. Disamping aspek kurikulum, guru, siswa, masyarakat juga perlu dipikirkan sarana pendukung misalnya buku paket. Hal-hal seperti ini harus dipikirkan terlebih dahulu karena pada dasarnya tingkat perkembangan psikologis remaja berbeda dengan orang dewasa, sehigga harus dipertimbangkan dan dipersiapkan yang matang agar program pendidikan ini justru menjadi bumerang bagi kehidupan remaja karena tergesa-gesa karena tuntutan modernisasi kesalahan dalam mendesainnya.

 

Upaya Dalam Meminimalisir Perilaku Seksual Remaja

selain upaya memasukkan materi pendidikan seks didalam sekolah, juga diperlukan langkah nyata dalam meminimalkan perilaku seks pranikah remaja dan pemerintahlah yang harus  menjadi pelopornya, dibantu oleh kita semua.  Beberapa  hal perlu  kita lakukan adalah :

Pertama, mengikis kemiskinan. Sebab kemiskinan inilah yang membuat abanyak orang tua (juga orang dewasa lainnya) tega untuk melacurkan anak dan remaja. Ini adalah tugas “wajib” pemerintah. Bisa dimulai dengan sungguh-sungguh mengikis  korupsi, dalam segala tataran, disegala bidang.

Kedua, menyediakan informasi tentang kesehatan reproduksi. Tidak tersedianya informasi yang akurat dan “benar” tentang kesehatan reproduksi memaksa remaja  melakukan eksplorasi sendiri, baik melalui media cetak, elektronik)maupun pertemanan yang besar kemungkinan justru salah. Apalagi masih banyak mitos menyesatkan seperti mitos melalui hubungan seks yang hanya dilakukan sekali takkan menyebabkan kehamilan. Ataupun berbagai metode pencegahan kehamilan yang salah misalnya basuh vagina berkarbonasi, lari-lari ditempat atau squat jump segera setelah berhubungan seksual. Belum lagi mitos kehamilan tidak akan terjadi pada perempuan yang belum mengalami menstruasi.

Ketiga, memperbanyak akses pelayanan kesehatan, yang iringi dengan sarana konseling. Hal ini penting mengingat masalah kesehatan reproduksi remaja tidak hanya terjadi di kota besar. Langkah ini, bisa berupa Konseling KRR disetiap sekolah atau PT.

Keempat, meningkatkan partisipasi remaja, dengan mengembangkan “peer educator” (pendidik sebaya) yang diharapkan membantu remaja membahas dan menangani permasalahannya, termasuk kesehatan reproduksi. Langkah ini penting mengingat kehidupan remaja sangat dipengaruhi teman sebaya. Langkah ini juga akan membuat remaja merasa dihargai, didengar, dilibatkan.

Keenam, meminimalkan informasi tentang kebebasan seks. Dalam hal ini media massa dan media hiburan sangat berperan penting. Masyarakat mesti menekan ragam media untuk menampilkan berbagai informasi dan berita rekreatif lain bagi para remaja yang mungkin bisa menjadi rujukan alternative  bagi remaja, yang mungkin bisa menjadi rujukan alternative untuk mengalihkan kegiatan rekreatif seksualitas. Mungkin dengan tayangan-tayangan alternative itu kaum muda akan punya pilihan beragam untuk menyalurkan keadaan psikologis dan aktivitasnya tidak hanya ke hal-hal yang hedonistic.

 Ketujuh, menciptakan lingkungan keluarga yang kokoh, kondusif, mendukung dan informative. Pandangan bahwa seks adalah tabu, yang telah sekian lama tertanam, membuat remaja enggan bertanya tentang kesehatan reproduksi kepada orang tuanya. Bahkan justru merasa paling tidak nyaman bila harus membahas seksualitas dengan orang tuanya.

Kedelapan, mengalihkan penyaluran hasrat seksual kaum muda ke berbagai bentuk seperti pada kegiatan olah raga, kesenian, latihan keterampilan dan keahlian di sekolah atau ruang public lain, guna melengkapi atau membuat keseimbangan dengan fasilitas rekreatif dan hiburan yang tidak berbau seks.

 

Penutup

Remaja sering dicap sebagai sumber masalah oleh orang dewasa., hanya sedikit yang menyadari bahwa remaja membutuhkan banyak informasi yang menyangkut perubahan-perubahan yang terjadi  dalam dirinya, baik fisik maupun emosi. Mereka juga membutuhkan dukungan untuk bisa menjadi individu yang sesuai dengan figure identitasnya yang positif. Mereka membutuhkan “teman” ketika mereka harus memutuskan sesuatu demi masa depannya.

Oleh karena itu orang tua dan kaum pendidik harus bersikap lebih tanggap dalam menjaga dan mendidik  remaja agar berhati-hati terhadap gejala-gejala sosial, terutama yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi  yang berlangsung saat ini, sudah saatnya pemberian penjelasan dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja ditingkatkan. Karena pandangan sebagian besar masyarakat yang menganggap kesehatan reproduksi (terutama seksualitas) adalah suatu hal yang alamiah, yang nantinya akan diketahui dengan sendirinya setelah mereka dewasa dan  menikah sehingga dianggap suatu hal tabu untuk diinginkan dan membahayakan bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa sudah tidak relevan dengan perkembangan informasi melalui teknologi yang mudah diakses oleh remaja.

Saat ini setidaknya ada 44 juta remaja ditanah air (sekitar 20 persen), kepada merekalah sesungguhnya kita “menitipkan” masa depan, karena itu sangatlah tidak tepat apabila kita tidak peduli atas kualitas mereka, termasuk kualitas kesehatan reproduksi mereka.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ashadi Siregar, 2002, Aids, Gender dan Kesehatan Reproduksi, Yogyakarta, LP3Y

BKKBN, 2002, Kesenjangan Gender dan Faktor Penyebabnya, Ada Apa dengan Gender dalam KB dan Kesehatan Reproduksi, Jakarta.

BKKBN Jawa Timur, 2001, Memahami Dunia Remaja (Seri Informasi KRR, Buku Bacaan Orang Tua) Edisi II.

Departemen Kesehatan Direktorat Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM-PL), 2005,  Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia, Jakarta.

YLKI, Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan (seri perempuan mengenali dirinya), 2002.

Mary Pipher, PhD, 1994, Reviving Ophelia : Saving the Selves of Adolescent Girls (New Ballatintine Books)

Miriam Stoppard Dr, 1994, Womans Body, A Manual for Life, Dorling Kinderslay Ltd.

Nina Hendarwati, 2001, Sketsa Kesehatan Reproduksi Perempuan Desa, Yayasan Pengembangan Pedesaan bekerjasama dengan Ford Foundation, YPP Press.

Neni utami Adiningsih, 2004, Buruk, Kesehatan Reproduksi Remaja, Pikiran  Rakyat

Santrock, 2003, Adolescence : Perkembangan Remaja, Erlangga

Siegler, Ava L. Phd. 1998. The Essential Guide to the New Adolescence : How to Raise an Emotionally Healthy Teenager, Plume.

UNAIDS, 2004, AIDS Epidemic Update (geneve Switzeeland:UNAIDS, 2004)

[1] Suara merdeka/10  Februari  2015

[1] Dosen Fakultas dakwah dan Komunikasi  UIN Walisongo Semarang

[2]Dalam Kongres Kependudukan dan Pembangunan  (ICPD) Kairo tahun 1994, kesehatan reproduksi diberikan definisi secara formal dan menyeluruh, yaitu  A state of complete physical, menta and social well-being and not morely the disease or infirmity. Dari hal tersebut tersirat dua hal berkaitan dengan kesehatan tidak hanya sebatas kesehatan fisik, tetapi juga mental dan sosial. Pengertian kesehatan secara sosial pada umumnya ditafsirkan sebagai kemampuan orang dalam  melakukan interaksi sosial serta kemampuan memanifestasikan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga ia mampu hidup produktif dimasyarakat (lihat deklarasi Alma Ata tahun 1978). Seseorang karena keadaan dirinya menjadikan ia tidak mampu melakukan fungsi sosial secara normal, dapat dianggap telah mengalami ganguan kesehatan sosial.

[3] Suara merdeka,  10/02/2015

[4] Salah satu PAUD yang berada dipelosok Desa Wanutunggal  Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan

[5] Genthu dalam bahasa jawa berarti orang nakal atau penjahat. Anak paud dan SD yang terlibat dalam kegiatan tersebut tidak tahu-menahu  apa makna  kegiatan tersebut, dia hanya mnegikuti apa yang diperintahkan oleh kakaknya yang sudah SMP. Dan gadis kecil tersebut juga ikut saja ketika dia disuruh membuka celana dalamnya dan kemudian menjadi korban pelecehan  seksual , makalah proposal KPD UIN Walisongo Semarang 2015, hal. 4

[6] Dalam menyampaikannya, beberapa hal penting yang patut diperhatikan:

  1. Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu-malu
  2. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau symbol seperti proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.
  3. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin karena perkembangan dari semua aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut.
  4. Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-ahap perkembangan tidak saa buat setiap anak. Dengan pedekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapt disesuaikan dengan keadaan khusus anak.

Mengantisipasi Kejahatan Seksual Anak

MENGANTISIPASI KEJAHATAN SEKSUAL ANAK

MELALUI PEMBELAJARAN “Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri”

Di  YAYASAN AL-HIKMAH GROBOGAN

 Siti Hikmah M.Si[1]

Abstrak

Child sex crimes became very sad case. It was because the traumatic impact of child victims of sexual crimes are so profound and difficult to cure. Through learning “I am a dare child, can protect mysellf” by teachers who performed once a week for 3 months can provide knowledge to students in anticipation of child sex crimes.

Keywords: anticipate, child sexual crime, learning “I kid who dare, can protect myselves”

Pendahuluan

Beberapa bulan yang lalu, masyarakat dikagetkan dengan munculnya berita tentang kasus pedofilia yang sedang ramai disorot media di Jakarta International School (JIS), sekolah yang dihuni oleh masyarakat kelas atas, ternyata didalamnya terdapat kasus keeahatan seksual pada anak-anak di bawah umur.

Namun tidak hanya di Jakarta, kasus serupa juga menimpa 11 pelajar di Medan, yang dilakukan oleh gurunya yang merupakan warga negara Singapura[2]. Di Tenggarong, Kalimantan Timur, seorang guru melakukan sodomi kepada muridnya[3]. Bahkan di tahun 2010 lalu, kasus pedofilia yang disertai kasus pembunuhan dan mutilasi menimpa empat belas anak jalanan di Jakarta. Pelakunya adalah Babe Baikuni yang dikenal dengan sebutan ‘Babe’[4].

Berita terakhir yang makin membelalakkan mata, di Sukabumi, seorang pemuda 24 tahun, telah menyodomi 89 anak berusia antara 6-13 tahun  (Kompas.com, 4 Mei 2014).   Di Indralaya Sumsel, ada anak remaja juga mencabuli tiga anak SD akibat sering nonton film porno. Di Pekanbaru 6 anak yang berumur dibawah 10 tahun mengalami kejahatan seksual oleh pihak sekolah tempat mereka belajar di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an)[5]. Kejahatan seksual yang menimpa anak ternyata jumlahnya terbilang tinggi dan cukup menonjol.[6]

Menurut data Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2010 telah diterima laporan kekerasan pada anak mencapai 2.046 kasus, laporan kekerasan pada tahun 2011 naik menjadi 2.462 kasus, pada tahun 2012 naik lagi menjadi 2.629 kasus dan melonjak tinggi pada tahun 2013 tercatat ada 1.032 kasus kekerasan pada anak yang terdiri dari: kekerasan fisik 290 kasus (28%), kekerasan psikis 207 (20%), kekerasan seksual 535 kasus (52%). Sedangkan dalam tiga bulan pertama pada tahun 2014 ini, Komnas perlindungan anak telah menerima 252 laporan kekerasan pada anak, yang didominasi oleh kejahatan seksual dari tahun 2010-2014 yang berkisar 42-62%[7].

Kejahatan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan kejahatan seksual yang terjadi saat ini sedang mengancam dunia anak, situasi kejahatan seksual terhadap anak sudah sangat darurat[8]. Kejahatan seksual, tidak hanya terjadi di luar rumah tetapi ada juga yang terjadi di dalam rumah di mana predatornya adalah orangtuanya sendiri, paman, kakak dan juga orang tua tiri.

Kejahatan seksual anak menjadi perkara yang sangat memilukan. Hal ini  dikarenakan  dampak traumatik yang dialami anak korban kekerasan seksual begitu mendalam dan sulit untuk disembuhkan. Dalam sebuah diskusi Kajian Ilmiah Perkembangan Anak di Yogyakarta, 28 Juni 2014 dinyatakan bahwa trauma psiologi pada anak yang menjadi korban kejahatan seksual sulit dihilangkan dari ingatan anak, terutama jika pelaku masih berada dan tinggal tidak jauh dari lingkungan  anak.

Dengan kondisi diatas, orang tua yang memiliki anak menjadi sangat kawatir dan was-was terhadap keselamatan  mereka, apalagi jika jauh dari  anak seperti saat bermain di luar bersama kawan-kawannya atau saat ditinggal dirumah tanpa ibu atau keluarga.  Bahkan  anggapan sekolah adalah tempat yang aman bagi anak sepertinya tak sepenuhnya benar karena banyak kasus kejahatan seksual pada anak, pelakunya adalah guru, pegawai sekolah atau teman sekolah anak sendiri.

Pendidikan kesehatan reproduksi adalah salah satu cara agar anak terhindar dari tindak kejahatan seksual, memberikan pendidikan reproduksi/seks kepada anak sejak dini idelanya harus dimulai dari keluarga, karena orang tua adalah orang pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun sebagian besar orang tua tidak mempunyai pengetahuan yang cukup ata tidak mempunyai kemampuan untuk menyampaikan kepada anaknya maka tugas tersebut diambil sekolah menjadi pilihan agar tidak banyak anak menjadi korban kejahatan seksual yang terjadi setiap saat melalui pembelajaran yang “ramah anak” artinya yang sesuai dengan usia perkembangan anak dengan bahasa yang bisa difahami anak dan media yang memudahkan anak untuk terus mengingat pentingnya materi tersebut.

Pembelajaran “aku anak yang berani, bisa melindungi diri sendiri” menjadi pilihan untuk mengenalkan akan pentingnya anak mengenali dirinya, menjaga dirinya, yang dapat memotivasi anak untuk bisa menjadi anak yang berani, yang dapat melindungi dirinya sendiri dari orang yang akan melakukan kejahatan seksual pada dirinya.

 

Bentuk-bentuk Kejahatan Seksual  Anak  

Kejahatan  seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya dibagi dalam kategori berdasar identitas pelaku (Tower, 2002) terdiri dari:

  1. Familial Abuse

Mayer (dalam Tower, 2002) Yaitu kejahatan seksual yang dilakukan oleh anggota keluarga, family abuse disebut Incest, sexual abuse yang masih dalam hubungan darah, menjadi bagian dalam keluarga inti. Seseorang yang menjadi pengganti orang tua, misalnya ayah tiri, atau kekasih, termasuk dalam pengertian incest.  

Mayer (dalam Tower, 2002) menyebutkan kategori incest dalam keluarga dan mengaitkan dengan kejahatan seksual pada anak. Kategori pertama, sexual molestation (penganiayaan). Hal ini meliputi interaksi noncoitus, petting, fondling, exhibitionism, dan voyeurism, semua hal yang berkaitan untuk menstimulasi pelaku secara seksual.

Kategori kedua, sexual assault (perkosaan), berupa oral atau hubungan dengan alat kelamin, masturbasi, fellatio (stimulasi oral pada penis), dan cunnilingus (stimulasi oral pada klitoris). Kategori terakhir yang paling fatal disebut forcible rape (perkosaan secara paksa), meliputi kontak seksual. Rasa takut, kekerasan, dan ancaman menjadi sulit bagi korban.

Mayer mengatakan bahwa  dua kategori terakhir diatas  yang paling banyak menimbulkan trauma terberat bagi anak-anak, namun korban-korban sebelumnya tidak mengatakan demikian. Mayer berpendapat derajat trauma tergantung pada tipe dari kekerasan seksual, korban dan survivor mengalami hal yang sangat berbeda. Survivor yang mengalami perkosaan mungkin mengalami hal yang berbeda dibanding korban yang diperkosa secara paksa. 

  1. Extrafamilial Abuse

Extrafamilial Abuse,    dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban, dan hanya 40% yang melaporkan peristiwa kekerasan. Kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa disebut pedophile, yang menjadi korban utamanya adalah anak-anak. Pedophilia diartikan ”menyukai anak-anak” (deYong dalam Tower, 2002). Pedetrasy merupakan hubungan seksual antara pria dewasa dengan anak laki-laki (Struve & Rush dalam Tower, 2002).

Pornografi anak menggunakan anak-anak sebagai sarana untuk menghasilkan gambar,

foto, slide, majalah, dan buku (O’Brien, Trivelpiece, Pecora et al., dalam Tower, 2002). Biasanya ada tahapan yang terlihat dalam melakukan kejahatan seksual, pelaku mencoba perilaku untuk mengukur kenyamanan korban. Jika korban menuruti, kejahatan akan berlanjut dan intensif, berupa:

  1. Nudity (dilakukan oleh orang dewasa).
  2. Disrobing (orang dewasa membuka pakaian di depan anak).
  3. Genital exposure (dilakukan oleh orang dewasa).
  4. Observation of the child (saat mandi, telanjang, dan saat membuang air).
  5. Mencium anak yang memakai pakaian dalam.
  6. Fondling (meraba-raba dada korban, alat genital, paha, dan bokong).
  7. Masturbasi
  8. Fellatio (stimulasi pada penis, korban atau pelaku sendiri).
  9. Cunnilingus (stimulasi pada vulva atau area vagina, pada korban atau pelaku).
  10. Digital penetration (pada anus atau rectum).
  11. Penile penetration (pada vagina).
  12. Digital penetration (pada vagina).
  13. Penile penetration (pada anus atau rectum).
  14. Dry intercourse (mengelus-elus penis pelaku atau area genital lainnya, paha, atau

bokong korban) (Sgroi dalam Tower, 2002).

 

 

Dampak  Kejahatan  Seksual  bagi  Perkembangan Anak

 

Lenore Terr (1990)  lewat bukunya yang berjudul Too Scared to Cry menggambarkan bagaimana efek trauma pada anak dapat memicu perilaku amoral anak sebagai bentuk perlawanan akan tindakan tidak menyenangkan yang telah dialaminya. Lenore Terr yang juga berlatar belakang sebagai psikiater handal dari Michigan University tersebut menjelaskan bahwa efek trauma itu muncul sebagai akibat dari ketidakmampuan anak dalam melakukan perlawanan terhadap pihak yang telah melakukan tindakan yang tidak menyenangkan terhadapnya. Hal ini mengarah pada munculnya konflik dan pergulatan batin di dalam ranah kesadaran anak sebagai bentuk sikap tidak menerima perlakuan buruk yang dialaminya yang pada akhirnya mendorong anak untuk mengekspresikan apa yang dirasakan

Efek trauma ini akan melekat kuat pada memori anak yang terus menerus muncul dalam ingatan anak secara tiba-tiba, baik melalui stimulus penglihatan dan pendengaran, secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga dengan sedikit stimulasi pada traumanya, anak akan dengan mudah terpantik untuk melakukan tindakan agresif, kekerasan, termasuk perilaku amoral. Hal tersebut merupakan coping strategy anak dalam mengatasi konflik batin yang disebabkan oleh trauma.

Pada fase ini, apabila anak sudah terpapar oleh faktor stimulus seperti media yang bernuansa seksual, maka seorang anak akan cenderung mengalami gejolak batin untuk mengekspresikan perilaku dan orientasi seksualnya. Jika pihak keluarga dan lingkungan sosial tidak memberikan pengawasan dan pengarahan yang tepat, maka seorang anak akan mendapatkan angin segar untuk mempraktekkan apa yang seolah diketahuinya dari tayangan pornografi tersebut. Fatalnya, perilaku seksual mereka seringkali dilakukan kepada anak yang pada umumnya berusia lebih muda dari mereka dengan maksud untuk menekan tingkat perlawanan saat aksi kejahatan seksual dilakukan. Dengan alasan inilah, media pornografi dinilai benar-benar berdampak sangat destruktif terhadap perkembangan mental dan perilaku anak.

Finkelhor dan Browne (dalam Tower, 2002) dampak trauma akibat kejahatan seksual menurut Psychological disorder – Gangguan stres pasca trauma – post  traumatic stres disorder (PTSD) Simptomnya berupa ketakutan, kecemasan, emosional, menutup diri, mengisolasi diri, krisis identitas. Kondisi traumatik mempengaruhi sikap, cara pandang, orientasi seksual dan memicu munculnya perilaku amoral sebagai bentuk perlawanan terhadap perlakuan tidak menyenangkan yg dialami anak yaitu :

  1. Betrayal (penghianatan)

kepercayaan merupakan dasar utama bagi korban kejahatan seksual. Kepercayaan anak & otoritas orang tua menjadi hal yg mengancam anak.

  1. Traumatic sexualzation (trauma secara seksual).

Russel (dalam Tower, 2002) menemukan bahwa perempuan yang mengalami kejahatan seksual cenderung menolak hubungan seksual, dan sebagai konsekuensinya menjadi korban kekerasan seksual dalam rumah tangga, korban lebih memilih pasangan sesama jenis. dll

  1. Powerlessness (merasa tidak berdaya).

Rasa takut menembus kehidupan korban, mimpi buruk, fobia, dan kecemasan dialami

oleh korban disertai dengan rasa sakit. Perasaan tidak berdaya mengakibatkan individu merasa lemah. Korban merasa dirinya tidak mampu dan kurang efektif dalam bekerja. Beberapa korban juga merasa sakit pada tubuhnya. Sebaliknya, pada korban lain memiliki intensitas dan dorongan yang berlebihan dalam dirinya (Finkelhor dan Browne, Briere dalam Tower, 2002).  Rasa takut, mimpi buruk, phobia, cemas disertai rasa sakit. Perasaan tidak berdaya mengakibatkan individu merasa lemah, tidak mampu dan kurang efektif dlm bekerja.

  1. Stigmatization

Korban kejahatan seksual merasa bersalah, malu, memiliki gambaran diri yang buruk. Rasa bersalah dan malu terbentuk akibat ketidakberdayaan dan merasa bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol dirinya. Korban sering merasa berbeda dengan orang lain, dan beberapa korban marah pada tubuhnya akibat penganiayaan yang dialami. Korban lainnya menggunakan obat-obatan dan minuman alkohol untuk menghukum tubuhnya, menumpulkan inderanya, atau berusaha menghindari memori kejadian tersebut (Gelinas, Kinzl dan Biebl dalam Tower, 2002).

Menurut    Sitohang ( 2004)  anak yang mengalami kejahatan seksual, dalam jangka pendek akan mengalami mengalami mimpi-mimpi buruk, ketakutan yang berlebihan pada orang lain, dan konsentrasi menurun yang akhirnya akan berdampak pada kesehatan. Untuk jangka panjangnya, ketika dewasa nanti dia akan mengalami fobia pada hubungan seks. Bahkan bisa terjadi dampak yang lebih parah,  dia akan terbiasa dengan kekerasan sebelum melakukan hubungan seksual.

Bisa juga setelah menjadi dewasa, anak tersebut akan mengikuti apa yang dilakukan kepadanya semasa kecilnya serta  depresi, gangguan stres pasca trauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut pada masa dewasa, dan dan cedera fisik untuk anak di antara masalah lainnya. Pelecehan seksual oleh anggota keluarga adalah bentuk inses, dan dapat menghasilkan dampak yang lebih serius dan trauma psikologis jangka panjang, terutama dalam kasus inses orangtua, sex  disorder,  gangguan rahim, HIV/AIDS dan gangguan seksual lainnya.

Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) korban kejahatan seksual masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi.

Jika kejahatan seksual terjadi pada anak yang masih kecil mempunyai pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simptom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991).

Dampak lan yang dapat terjadi adalah[9] :

  1. Anak berbohong, ketakutan, kurang dapat mengenal cinta atau kasih sayang, sulit percaya dengan orang lain
  2. Harga diri anak rendah dan menunjukkan perilaku yang destruktif
  3. Mengalami gangguan dalam perkembangan psikologis dan interaksi social
  4. Pada anak yang lebih besar anak melakukan kekerasan pada temannya dan anak yang lebih kecil
  5. Kesulitan untuk membina hubungan dengan orang lain
  6. Kecemasan berat atu panik, depresi anak mengalami sakit fisik dan bermasalah disekolah
  7. Harga diri anak rendah
  8. Abnormalitas atau distorsi mengenai pandangan terhadap seks
  9. Gangguan personality
  10. Kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain dalam hal seksualitas
  11. Mempunyai tendency untuk prostitusi
  12. Mengalami masalah yang serius pada usia dewasa

 

 Faktor Penyebab Terjadinya Kejahatan seksual anak

            Ada beberapa penyebab terjadinya perilaku kejahatan seksual pada anak. Pertama, pornoaksi dan pornografi yang tidak terkendali. Kecanggihan dan kian murahnya beragam gadged membuat siapa saja mudah mendapatkan konten pornografi sebanyak-banyaknya. Bukan sembarang pornografi, tetapi konten pornografi yang makin brutal dampaknya bisa ditebak, pelaku menjadi porn addict dan akhirnya mencari pelampiasan. Termasuk menjadikan anak kecil sebagai objek seksual. Korban yang paling mudah disasar adalah anak kecil. Mereka mudah dibujuk, diancam, atau dibunuh sekalian. 

Kedua, rangsangan seksual bukan saja dari konten pornografi tetapi  dari penampilan banyak perempuan yang senang memakai busana minim dan ketat, pria dewasa normal akan terangsang dan sebagian dari mereka akan mencari pelampiasan hasrat seksualnya. Lagi-lagi, korban yang paling gampang disasar adalah anak-anak.

Ketiga, keteledoran orang tua memberikan pakaian minim kepada anak-anak perempuan. Banyak bocah anak perempuan didandani dengan pakaian tanktop, rok mini, dan sebagainya. Ini menimbulkan godaan bagi kaum pedofil untuk menyasar mereka. Orang tua harusnya memberikan pakaian yang wajar, lebih baik lagi menutup aurat kepada anak baik laki-laki atau perempuan sekalipun mereka belum baligh, dewasa. Menanamkan rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Misalnya, mereka harus memahami untuk tidak membiasakan diri walau masih kecil bertelanjang didepan orang lain, ketika keluar dari kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Kepada anak perempuan juga ditanamkan sejak kecil untuk berbusana muslimah. Menutup aurat disampaikan sebagai bagian dari hukum syariat yang harus dipatuhi baik bagi laki-laki maupun perempuan (lihat QS. An Nurr [24]:31, QS. Al Ahzab:59 dan beberapa hadits tentang kewajiban menutup aurat dan cara berpakaian).

Keempat, orang tua lengah dalam mengawasi lingkungan pergaulan anak, terutama untuk anak-anak yang kedua orang tuanya sama-sama bekerja. Orang tua tidak membekali anak etika pergaulan, sekalipun masih kanak-kanak, orang tua sudah semestinya mengajarkan rasa malu bila aurat mereka terlihat, diajarkan  dimana tempat membuka pakaian, larangan mencium dan dicium lawan jenis, termasuk berani bercerita bila ada orang yang berani memegang organ kelamin mereka. Kelima, anak tidak dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat melindungi dirinya dari ancaman kejahatan seksual.

 

Pembelajaran “Aku Anak yang Berani Bisa Melindungi Diri Sendiri” di Yayasan Al-Hikmah Grobogan

     Materi pembelajaran di Yayasan Al-Hikmah Grobogan terkait dengan judul diatas sebagian besar diadopsi dari buku cerita tentang kejahatan seksual anak yang berjudul “aku anak berani, bisa melindungi diri sendiri” karya Watiek  Ideo (2015) penerbit Gramedia. Proses pembelajaran pertema menggunakan metode cerita singkat yang dilengkapi dengan gambar kartun atau kadang guru mengkreasi sendiri alur ceritanya. Guru dituntut memahami hal-hal seputar tema yang disampaikan. Misalnya tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, proses kelahiran bayi dll serta metode lain dalam pembelajaran agar siswa tidak bosan dan materi mudah difahami oleh siswa seperti pemutaran film atau dengan menggunakan role modeling sehingga metode ini menjadi efektif bagi pembelajaran anak.

Pembelajaran “aku anak yang berani, bisa melindungi diri sendiri” di Yayasan Al-Hikmah Grobogan diterapkan pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) oleh guru kelas masing-masing setiap satu minggu sekali selama 3 bulan atau 10 kali pembelajaran/tatap muka serta 4 kali review materi bersama setelah sholat dhuhah berjamaah di mushollah. Namun sebelum pembelajaran pada siswa, sebelumnya dilakukan pelatihan pembelajaran pada semua guru. Hal ini dimaksudkan agar guru memahami materi secara mendetail dan jelas sehingga guru dapat menjelaskan materi ketika ada pertanyaan dari siswa seputar kejahatan seksual anak serta dapat melakukan improvisasi pembelajaran sesuai kondisi kelas masing-masing.  Adapun tema materi pembelajaran sebagai berikut :

  1. Kenapa Berbeda[10] ?

Ilustrasi Singkat: Ini merupakan sebuah cerita yang mengisahkan seorang anak perempuan kecil yang baru mempunyai adik laki-laki. Pada suatu hari adik laki-lakinya ngompol, dan ia melihat ibunya mengganti popok. Ketika melihat adiknya ganti popok, si anak perempuan ini merasa kaget, dalam hatinya berfikir “Kok ada sesuatu yang berbeda dari diri aku ya ?”, “Kok adikku mempunyai sesuatu yang tidak aku punyai ya”. Nah., si anak perempuan ini terus bertanya-tanya dan penasaran tentang apa yang di lihatnya itu. Kemudian Mamanya menjelaskan bahwa ini namanya kemaluan, disebut kemaluan karena kita semua akan malu kalau area pribadi ini dilihat orang lain. Jadi kita harus menutupnya. Lalu mengapa berbeda? Tuhan memang menciptakan manusia dua jenis, laki-laki dan perempuan.

                 Dalam materi ini guru dapat menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan dsisi biologis. Guru juga dapat menjelaskan perbedaan lain yang diciptakan oleh Allah yang saling berlawanan/berpasangan, yang mempunyai fungsi saling melengkapi dan semuanya mempunyai manfaat yang sangat besar diantaranya perbedaan siang dan malam, matahari dan bulan, air dan api, gelap dan terang dll. Perbedaan tersebut bukan untuk dimusuhi namun untuk disyukuri, karena perbedaan adalah rahmat tuhan, yang dapat menyempurnakan kehidupan. Dalam menjelaskan perbedaan tersebut diatas siswa harus diajak merasakan jika salah satu pasangan yang berlawanan tidak ada. Misalnya perbedaan siang dan malam, jika siang terus menerus apa yang terjadi ? jika malam terus menerus apa yang terjadi ? siswa diminta menyebutkan secara bergantian.dll

                 Dalam menjelaskan kepada anak usia 4-8 tahun,  belum dibutuhkan penjelasan tentang  perbedaan laki-laki dan perempuan dari sisi kematangan seksual yaitu keluarnya sperma dari alat kelamin laki-laki dan menstruasi dari alat kelamin perempuan. Kenapa? Anak usia tersebut belum cukup di beri informasi tentang kematangan seks, jika disampaikan akan membuat anak kebingungan serta anak belum mengingat informasi yang mendetail.

           Pendidikan seks yang bisa dibicarakan pada anak usia pra sekolah adalah pengenalan identitas diri dan jenis kelamin, hubungan antara laki-laki dan perempuan, organ-organ reproduksi dan fungsinya, bagaimana menjaga kesehatannya, serta keterampilan mengindarkan diri dari kejahatan seksual (Tabloid Nakita.com, 24/2/14). Jika sudah cukup usia, anak perlu mendapatkan pemahaman pengetahuan mengenai haid bagi perempuan, atau mimpi basah bagi laki-laki. Tak terkecuali pengetahuan tentang penyakit akibat perilaku seksual seperti HIV/AIDS.Penyampaian pendidikan seks tersebut dilakukan secara wajar, jujur, sederhana serta menggunakan bahasa yang mereka pahami.

           Misalnya pada  anak usia 9 tahun keatas informasi tersebut dapat disampaik an namun dengan bahasa yang lugas, jelas. Misalnya perempuan jika badannya cepat besar, dapat dicontohkan dengan nama temannya/kakak kelasnya/tetangganya, yang sudah mengalami menstruasi yaitu alat kelaminnya akan mengeluarkan darah tapi tidak sakit, maka berarti anak perempuan tersebut sudah remaja/baligh, jika perempuan tersebut sudah baligh maka dia  mempunyai kewajiban sholat 5 waktu dalam sehari dan puasa ramadhan. Siswa juga diajarkan hal-hal yang perlu dilakukan jika menstruasi yaitu   memberitahu ibunya/ jika siswa kurang dekat dengan ibunya/ibunya meninggal/bekerja menjadi TKW, anak dapat memberitahu guru perempuan disekolah yang dianggap nyaman oleh anak serta melakukan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak serta dampak yang akan dihadapi oleh anak jika melakukan hubungan seksual atau pernikahan pada usia yang sangat muda dibawah 17 tahun.

  1. Dari Mana Asalnya Adik Bayi[11] ?

Dalam materi ini menceritakan bahwa seorang anak berusia 4 tahun bertanya kepada ibunya, adik bayi keluar dari mana. Ibunya kemudian menjelaskan bahwa kemarin perut ibu besar, itu berarti didalam perut ibu terdapat adik bayi. Sebelum menjelaskan kepada siswa, guru dapat menanyakan kepada siswanya  “adik bayi keluarnya dari  mana ya ?” apakah dibeli dipasar ? atau keluar dari bantal atau keluar lewat perut ibunya ? coba siapa yang mempunyai adik bayi ?adik bayinya keluar dari mana ?

Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut guru dapat menanggapi jawaban dari siswa dan dapat menanyakan kembali. Misalnya jawaban siswa “keluar lewat perut ibunya”, guru dapat menanyakan kembali “dari perut ibu lewat mana ya?’ apa lewat “udel bodong” atau lewat anus/tempat BAB ? guru dapat menjelaskan tentang :

  1. Bagaimana proses terjadinya kehamilan ?
  2. Apa yang dirasakan oleh ibu ketika adik bayi didalam perut ibunya ?
  3. Apa yang terjadi dengan adik bayi ketika dalam perut ibunya ?
  4. Ketika sudah cukup usia adik bayi dalam perut ibu, apa yang terjadi ?
  5. Bagaimana adik bayi keluar dari perut ibu ?
  6. Apa itu caesar dan normal ?
  7. Mengapa kita harus sayang pada ibu ?
  8. Khitan, Sakit Nggak Ya[12] ?

     Pada tema ini guru menjelaskan  pada siswa tentang khitan atau dalam bahasa jawa namanya sunat.  Dalam materi ini guru dapat menanyakan dan menjelaskan kepada siswa  tentang :

  1. Siapa yang mempunyai kakak atau tetangga yang sudah khitan ?
  2. Kira-kira dikhitan itu rasanya seperti apa ?
  3. Bagaimana proses khitan ?
  4. Yang di khitan laki-laki atau perempuan ?
  5. Kenapa laki-laki yang beragama islam wajib dikhitan ?
  6. Apa ya manfaat khitan bagi laki-laki ?
  7. Cerita Nggak yah [13]?

                   Menceritakan tentang seorang anak perempuan yang mengalami kejahatan seksual dari orang terdekatnya yaitu  pamannya sendiri dalam bentuk perkosaan. Dalam menjelaskan materi ini, diharapkan guru dapat memotivasi anak untuk menceritakan setiap kejadian dalam keseharian kepada orang tuanya, jika orang tuanya kurang respon dengan ceritanya baik yang menyenangkan, apalagi yang menyedihkan, yang membuat dia menangis karena tersakiti maka siswa didorong untuk menceritakan kepada guru yang dianggap dekat dengannya. Orang tua atau guru tidak akan marah kepadanya bahkan akan menolongnya jika dia mengalami masalah.

                               Selain itu anak dilatih komunikatif, dapat menceritaka kejadian dalam hidupnya, tidak dengan menyembunyikannya karena dapat merugikan dirinya diantaranya adalah kesedihan yang berlarut serta jika kejahatan seksual terjadi pada anak, maka kejahatan tersebut akan terus berulang sampai tanpa batas bahkan sampai anak dewasa.

  1. Pipis Dimana ?[14]

Dalam tema ini menceritakan anak lelaki yang pipis sembarangan. Dalam  cerita ini guru dapat menjelaskan tentang pentingnya menjaga kebersihan tubuh terutama alat kelamin serta pentingnya menjaga aurat agar tidak diketahui orang lain sehingga tidak memberi kesempatan kepada orang lain mengetahui atau melihat alat kelamin yang dimiliki yang dapat memicu terjadinya kejahatan seksual pada anak.

Bagi anak usia 7 tahun keatas, setelah pipis diwajibkan untuk membersikan diri dengan benar agar tidak menimbulkan najis yang dapat mengganggu aktifitas sholatnya karena ketika seorang muslim mengerjakan sholat, maka dia harus bersih dalam arti suci badan dan pakean yang digunakan. Selain itu melatih anak untuk hidup bersih sebagaimana islam mengajarkan untuk selalu menjaga kebersihan.

  1. Apakah Ada Monster ?[15]

Dengan materi ini guru dapat mendorong anak  meminta pada orang tuanya untuk tidur dengan tempat tidur tersendiri atau jika tidak memungkinkan tidur bersama saudaranya namun dengan selimut masing-masing.  Selain itu anak diminta untuk memperhatikan keamanan kamar dengan cara mengunci kamar dari dalam ketika tidur atau berganti pakean. Hal ini dimaksudkan agar siapapun tidak bisa masuk kamar selain izin darinya serta upaya menghindarkan anak menjadi korban tindak kejahatan seksual ketika anak tertidur.

  1. Mengapa Tidak Boleh ?[16]

Dalam materi ini diharapkan guru dapat mendorong anak untuk menggunakan baju ketika dirumah atau ketika bermain dengan teman-temannya disekitar rumah karena dengan udara yang panas sebagian besar anak perempuan yang berusia 4 sampai 8  tahun ketika dirumah hanya menggunakan kaos  dan celana dalam tanpa rok atau baju. Materi ini diharapkan dapat merubah cara berpakaian siswa ketika di rumah dan sekitarnya. Selain itu dijelaskan juga tentang :

  1. Bagaimana cara berpakaian yang benar ?
  2. Kapan boleh membuka baju ?
  3. Dimana dibolehkan membuka baju ?
  4. Siapa saja yang boleh melihat anggota tubuh kita yang private
  5. Jika ada yang memaksa meminta anak membuka baju, apalagi celana dalam maka anak diajarkan untuk bisa menolaknya dan lansung melaporkan kepada orang tua atau guru atau anak diajari untuk bagaimana menghindar dari orang yang akan berniat jahat
  6. Siapa Itu ?[17]

                             Dalam tema ini menjelaskan tentang kewaspadaan anak terhadap orang yang tidak dikenal jika mereka mengajak pergi atau melakukan sesuatu atau memberi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, bagaimana melakukan penolakan dan bagaimana menghindar.

  1. Sentuhan Apa ini[18]

                               Guru dapat memberikan edukasi  guna mengantisipasi terjadinya kejahatan  seksual pada anak di manapun mereka berada. Edukasi yang penting untuk diberikan antara lain batasan anggota tubuh mana yang boleh dilihat oleh orang lain terutama lawan jenis, mana yang tidak boleh apalagi jika sampai diraba bahkan lebih, termasuk oleh orang yang dihormati seperti guru, atau kerabat bahkan oleh ayah atau ibu mereka sendiri.

                               Selain itu guru dapat mengajarkan pada siswa meskipun dengan orang dekat misalnya orang tua, paman, kakek dll namun anak harus diajarkan untuk membatasi pelukan dan ciuman. Anak diminta untuk tidak memaksakan diri menerima sentuhan dari orang lain—baik berupa pelukan ataupun ciuman, meskipun itu adalah saudara Anda sendiri, jika dirinya tidak menyukainya meskipun orang tua memintanya dan memarahinya karena  seringkali orangtua ingin anaknya kelihatan manis di depan sanak kerabat, sehingga menegur anak apabila ia menolak dipeluk oleh tante atau om-nya. Dengan membebaskan anak menentukan pilihan, guru telah menanamkan dalam benak anak bahwa dia memiliki kendali atas tubuhnya sendiri. 

  1. Siapa yang Melindungiku ?[19]

     Guru dharapkan dapat mengajari cara bersikap. Disampaikan kepada anak untuk mempercayai kata hatinya. Apabila ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, maka segeralah lari menghindar atau mencari orang dewasa yang bisa dipercaya (guru, polisi, dll). Katakan bahwa tidak apa-apa bila ia berlaku tidak sopan (berteriak, menjerit, menepis tangan seseorang, atau lari menjauh), apabila ia merasa terancam bahaya. Ajari pula si kecil untuk menolak pemberian apa pun dari orang yang tidak ia kenal. Ini termasuk makanan, minuman, mainan, dan (terutama) tumpangan untuk pulang ke rumah atau pergi ke suatu tempat.

Hasil  Pembelajaran “Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri”[20]

  1. Untuk mengetahui hasil dari pembelajaran “aku anak yang berani, bisa melindungi diri sendiri” dilakukan melalui Focus Group Discusion (FGD) pada perwakilan siswa masing-masing kelas yang berjumlah 15 anak didapatkan hasil siswa dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan seputar dirinya secara biologis, bagaimana menjaga diri agar terhindar dari kejahatan seksual melalui 10 tema yaitu kenapa berbeda, dari mana keluarnya adik bayi, pipis dimana, sentuhan apa nih, cerita nggak ya, ih takut ada hantu, siapa itu, khitan,  mengapa tidak boleh, siapa yang bisa melindungiku.
  2. Setelah pembelajaran “aku anak yang berani, bisa melindungi diri sendiri” berakhir dilakukan khitan massal di Yayasan Al-Hikmah Grobogan pada 13 Juni 2015, dari home visit peneliti pada siswa yang mengikuti khitan (perwakilan kelas 1 sampai kelas 4 yang berjumlah 4 anak) menghasilkan bahwa  4 siswa cukup memahami tema khitan dan pipis dimana. hal itu terungkap dari permintaan peneliti untuk memperlihatkan alat kelaminnya apakah sudah sembuh atau belum usai dikhitan namun semua anak (4) menolak dengan alasan malu, karena kemaluan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain kecuali darurat. Menurut orang tua siswa, anak menolak jika ada anggota keluarga yang ingin melihat lansung alat kelamin yang baru dikhitan kecuali kedua orang tuanya.
  3. Ketika melakukan home visit pada siswa sekolah lain yang tidak melakukan pembelajaran “aku anak yang berani, bisa melindungi diri sendiri” siswa tidak menolak ketika peneliti memintanya untuk memperlihatkan alat kelaminnya usai khitan.
  4. Melalui observasi, peneliti mencoba melihat bagaimana penerapan tema “siapa itu” dengan cara secara sengaja meminta seorang ibu yang tidak dikenal siswa[21] dengan memberikan permen dan makanan ringan yang menggoda namun dengan mengajak siswa untuk naik motornya. Namun siswa yang bernama cindy  menolak pemberian ibu tersebut dan lansung pergi meninggalkan ibu yang tidak dikenalnya.

Kesimpulan

Kejahatan seksual terus terjadi di sekitar kita, yang memprihatinkan sebagian besar kejahatan seksual terhadap anak itu justru terjadi di tempat-tempat yang seharusnya menjadi tempat teraman bagi anak yaitu rumah, sekolah dll. Dengan pelaku orang terdekat anak yaitu orang tua, saudara, paman, guru, pengasuh, tetangga dll.

Pelaku kejahatan seksual biasanya orang-orang yang pernah mengalami kejahatan seksual di masa kecil. Korban berpotensi menjadi pelaku kejahatan saat mereka mengalami trauma berkepanjangan dan tak ditangani psikolog.

Minimnya pendidikan kesehatan reproduksi, seksualitas dan kurangnya pemahaman religiusitas serta penyalahgunaan teknologi informasi seperti maraknya pornografi di internet mendorong banyaknya kejahatan seksual di Indonesia. Salah satu upaya dalam mengantisipasi kejahatan seksual tersebut adalah melalui pembelajaran “aku anak yang berani, bisa melindungi diri sendiri” yang dilakukan oleh Yayasan Al-Hikmah oleh guru kelas masing-masing dan dilakukan seminggu sekali selama 3 bulan dapat memberikan pengetahuan pada siswa dalam mengantisipasi kejahatan seksual anak.

 

Daftar Pustaka

Atmasasmita, Romli. 1995. Kejahatan Kesusilaan dan Pelecehan Seksual Dalam Perspektif Kriminologi dan Victimonolog, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Basoeki, Lestari. 1999. Child Abuse dan Dampaknya Terhadap Kesehatan, Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Eric From, 1997, Akar Kekerasan, Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Gemma-Gladstone, B.A., et. 1999. Characteristics of Depressed Patients Who Report Childhood Sexual Abuse. Am.J. Phychiat. 156:3. March 1999.

Heise, Lori. 1994. Violence Againt Women: The Hidden Health Burden. World Bank Discussion Papers. Washington DC.

Husain. S.A. Canwell. D.P. 1991. Physical and Sexual Abuse of Children. Chapter 6. Special Problem in Fundamental of Child and Addoscent Psychopathology. American Psychiatric Press inc. Washington D.C.

Kaplan, H.I., Sadock, B.J., Grebb. J.A., 1994. Problem Related to Abuse or Neglect in Kaplan and Sadock’s Synopsis of Psychiatry Behavior Sciences Clinical Psychiatry. William & Wilkins. Baltimore USA 7th ed.

Santrock, 2002, Life Span Development : Perkembangan Rentang Hidup, Erlangga.

———–, 1995, Life Span Development,  University of Texas.

Terry and Belkin, 1989, Child Psycology, McGraw-Hills,

 Tower, 2002, Undestanding Child Abuse and Neglect (5 ed) Boston : Allyn & Bacon, A Pearson Education Company

 

[1] Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo  Semarang

[2] Kompas.com, 23/04/2014

[3] Merdeka.com/peristiwa/19/2/2015

[4] Kompas.com, 23/04/2010

[5] Merdeka.com/peristiwa/19/2/2015

[6] Suara merdeka, Senin (28/4/2014)

[7] Kompas.com/12/2/2013

[8] Suara merdeka, Senin (28/4/2014)

[9]

[10] Watiek Ideo,2014, Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri, PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 5

[11]  Ibid, hal 45

[12] Ibid, hal 73

[13] Ibid, hal 83

[14] Ibid, hal 15

[15] Ibid, hal 59

[16] Ibid, hal 25

[17] Ibid, hal 97

[18] Ibid, hal 35

[19] Ibid, hal 111

[20] Siti Hikmah, 2015, KPD : Pendampingan Guru dalam Mengantisipasi Kejahatan Seksual Anak di Yayasan Al-Hikmah grobogan,UIN Walisongo Semarang. Hal 99

[21] Cindy, siswa kelas 2  MI,berumur 8 tahun, rumahnya 500 meter dari sekolah MI.

MENGENAL LEBIH DINI AUTISME

MENGENAL  LEBIH  DINI  AUTISME

Siti  Hikmah Anas S.Pd,M.Si

 Pendahuluan

Autisme baru disadari  orang tua dan didiagnosa para ahli ketika anak telah berusia 2 tahun keatas.  Pada hal orang tua tidak perlu menunggu selama itu. Jika cukup jeli, orang tua akan bisa melihat kecendrungan perilaku autis[1] sejak dini. Continue reading

Kisah Isra’ Mi’raj

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang meyakini kisah yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab. Benarkah demikian? Bagaimanakah cerita kisah ini? Kapan sebenarnya  terjadinya kisah ini? Bagaimana pula hukum merayakan perayaan Isra’ Mi’raj? Simak  pembahasannya dalam tulisan yang ringkas ini. Continue reading

Manfaat Pendidikan

Seberapa Besar Manfaat Pendidikan

Ilmu dizaman sekarang keberadaannya sangat berharga, bahkan bisa lebih berharga dari platina. Oleh sebab itu tidak mengherankan bila setiap negara berusaha membangun kualitas pendidikan supaya kualitas SDM negara tersebut berkembang. Di Indonesia, pembangunan pendidikan sedang digalakkan oleh pemerintah dengan berbagai cara seperti BSM, BOS, dll. Hal ini dimaksudkan supaya setiap lapisan  masyarakat dapat memperoleh pendidikan, terutama masyarakat kelas bawah. Tetapi permasalahan pembangunan pendidikan di Indonesia tetap ada, yaitu kualitas SDM hasil dari pendidikan. Continue reading